BANYUMAS – Di lereng perbukitan yang membentang di perbatasan Kabupaten Banyumas dan Kebumen, terdapat sebuah kampung kecil bernama Dusun Krikil, Desa Watuagung, Kecamatan Tambak. Kampung ini jauh dari hiruk-pikuk kota, menyuguhkan suasana sejuk, asri, dan tenang, seolah waktu berjalan lebih lambat di sana.
Akses menuju Dusun Krikil tidak mudah. Jalan makadam berbatu menurun tajam ke lembah, diapit bukit di kanan kiri dan sungai di bagian bawah. Sebuah jembatan bambu sederhana menjadi penghubung antarwilayah—tradisional, namun kokoh dan estetik, menyatu dengan alam sekitar.
Sepanjang perjalanan, suara burung, tonggeret, dan gemericik air sungai menjadi latar alami. Air sungai tampak jernih, mengalir dari kawasan pegunungan, mencerminkan lingkungan yang masih terjaga.
Dusun Krikil hanya memiliki sekitar 20–25 rumah, sebagian besar berdiri di lereng bukit dengan pondasi tinggi. Rumah-rumah kayu masih mendominasi, meski beberapa sudah beralih ke bangunan permanen. Jalan setapak di antara rumah kini sebagian telah dicor rapi, menjadi jalur utama aktivitas warga.
Bertahan dari Alam dan Tradisi
Mayoritas warga Dusun Krikil menggantungkan hidup dari alam. Salah satu mata pencaharian utama adalah menderes nira kelapa untuk diolah menjadi gula merah. Setiap pagi, warga memanjat pohon kelapa setinggi puluhan meter untuk mengambil air nira, lalu merebusnya hingga berjam-jam.
“Kalau satu jeriken bisa jadi sekitar empat kilo gula,” ujar salah satu warga. Prosesnya panjang dan melelahkan, namun telah menjadi rutinitas turun-temurun.
Selain menderes, sebagian warga bekerja sebagai petani, buruh ladang, atau pengrajin kayu. Di depan beberapa rumah terlihat tumpukan kusen pintu dan jendela—tanda profesi tukang kayu yang masih bertahan di kampung ini.
Wajah Kehidupan Sederhana
Kehidupan di Dusun Krikil berjalan sederhana. Anak-anak masih bermain di sekitar rumah, sementara para ibu memasak gula atau menyiapkan kebutuhan rumah tangga. Fasilitas dasar seperti air bersih diperoleh dari mata air pegunungan yang dialirkan langsung ke rumah-rumah dan kamar mandi terpisah ala kampung lama.
Baca Juga: Pesona Desa Gerlang hingga Telaga Dringo, Jalur Indah Perbatasan Batang–Banjarnegara di Lereng Dieng
Pendidikan anak-anak relatif terbatas. Sekolah dasar dapat dijangkau sekitar 15 menit perjalanan, sementara untuk jenjang lebih tinggi, anak-anak harus keluar dusun. Meski demikian, semangat warga untuk menyekolahkan anak tetap ada.
Di beberapa titik, tampak rumah-rumah kosong yang ditinggalkan penghuninya. Sebagian karena usia lanjut, sebagian lainnya karena anak-anak memilih merantau ke kota. Rumah-rumah tua itu berdiri sunyi, menjadi saksi perubahan zaman.
Kampung Kecil di Ujung Jalan
Di bagian paling ujung Dusun Krikil, terdapat kelompok rumah yang lebih terpencil—hanya lima hingga enam rumah yang berdiri saling berjauhan di lereng bukit. Jalannya sempit, berliku, dan licin saat hujan. Namun justru di sinilah ketenangan paling terasa.
Warga di wilayah ini masih sangat bergantung pada gotong royong. Arisan, kerja bakti, dan saling membantu saat panen atau memasak gula masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Dusun Krikil bukan kampung wisata, bukan pula desa tertinggal dalam arti fasilitas. Ia adalah potret kampung lereng bukit yang bertahan dengan kesederhanaan, alam yang terjaga, dan manusia-manusia yang hidup selaras dengannya.
Di tengah modernisasi, Dusun Krikil mengingatkan bahwa ketenangan, kebersamaan, dan kesahajaan masih nyata—di sudut sunyi Banyumas yang jarang tersentuh.
Editor : Natasha Eka Safrina