LUMAJANG – Di balik langit kelabu dan kabut tebal Jawa Timur, berdiri sebuah gunung yang bukan hanya memesona secara visual, tetapi juga menyimpan kisah yang membuat sebagian pendaki memilih diam. Gunung itu adalah Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa yang kerap disebut sebagai tempat bersemayam para dewa sekaligus saksi tragedi yang tak pernah benar-benar usai.
Gunung Semeru menjulang setinggi 3.676 meter di atas permukaan laut. Namun, ketinggian bukanlah satu-satunya alasan gunung ini dianggap berbahaya. Semeru dikenal sebagai gunung yang tidak pernah benar-benar tidur. Aktivitas vulkaniknya berlangsung hampir tanpa henti, dengan pusat letusan berada di Kawah Jonggring Saloko yang memuntahkan abu dan letusan kecil setiap 20 hingga 30 menit.
Puncak tertinggi Semeru dikenal dengan nama Mahameru, yang secara harfiah berarti “gunung agung”. Nama ini bukan tanpa alasan. Dalam mitologi Hindu Jawa, Semeru dipercaya sebagai replikasi Gunung Meru di India yang dipindahkan para dewa ke Pulau Jawa agar pulau ini tidak terombang-ambing di lautan. Meski bersifat mitologis, kepercayaan ini masih hidup di tengah masyarakat Tengger hingga kini.
Sebelum mencapai puncak Mahameru, pendaki akan melewati sebuah danau yang sering disebut sebagai surga kecil, Ranu Kumbolo. Permukaan airnya tenang, udara dingin menyelimuti, dan matahari terbit menciptakan panorama yang sulit dilupakan. Namun di balik ketenangannya, lokasi ini menyimpan cerita kelam. Sejumlah pendaki dilaporkan pernah mengalami hipotermia, kelelahan ekstrem, bahkan kehilangan nyawa.
Beberapa pendaki mengaku mendengar suara langkah kaki di malam hari atau suara panggilan dari arah danau, padahal tidak ada siapa pun di sekitar. Sebagian menganggapnya sebagai ilusi akibat suhu ekstrem, sebagian lain meyakininya sebagai bagian dari misteri Semeru yang tak terjelaskan.
Di atas Ranu Kumbolo terdapat jalur terkenal bernama Tanjakan Cinta. Jalur ini dikenal curam dan menguras tenaga. Legenda setempat menyebutkan bahwa siapa pun yang mendaki tanpa menoleh ke belakang akan menemukan cinta sejatinya. Namun di balik romantisme itu tersimpan kisah tragis tentang seorang pendaki perempuan yang terpeleset setelah menoleh ke belakang dan tak pernah kembali. Sejak itu, larangan menoleh ke belakang dipahami sebagai peringatan keselamatan, bukan sekadar mitos asmara.
Bagian paling berbahaya dari pendakian Semeru justru berada di jalur pasir menuju Mahameru. Medannya ekstrem, setiap satu langkah naik bisa diikuti dua langkah turun. Pendaki juga dilarang berlama-lama di puncak karena ancaman letusan mendadak dari kawah aktif yang hanya berjarak ratusan meter.
Gunung Semeru bukan sekadar objek wisata alam. Ia adalah raja api yang telah berkali-kali menunjukkan kekuatannya. Letusan besar Semeru tercatat mengeluarkan awan panas, aliran lava, dan lahar yang menghancurkan permukiman warga dalam waktu singkat. Ribuan warga terpaksa mengungsi, rumah-rumah tertimbun, jembatan roboh, dan langit berubah gelap seperti malam.
Saksi mata kerap menggambarkan suara letusan Semeru seperti gemuruh panjang yang mengguncang bumi, disertai langit kemerahan seolah terbakar dari dalam. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa di balik keindahannya, Semeru menyimpan ancaman nyata.
Meski demikian, Semeru tetap menjadi bagian penting kehidupan masyarakat sekitar. Tanah vulkaniknya subur, sumber airnya melimpah, dan bagi masyarakat Tengger, Semeru adalah gunung suci yang harus dihormati. Ada aturan adat, larangan, dan tata krama yang wajib dipatuhi oleh siapa pun yang mendaki.
Bagi warga Tengger, pendaki hanyalah tamu. Gunung Semeru adalah penjaga. Keindahan, bahaya, dan misterinya adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Gunung Semeru mungkin adalah salah satu gunung terindah di Indonesia, tetapi juga salah satu yang paling mematikan. Ia megah, misterius, dan menjadi simbol kekuatan alam yang tak bisa ditaklukkan. Seperti kata warga Tengger, siapa pun yang naik Semeru akan pulang membawa cerita—entah tentang keindahan, atau sebuah peringatan.
Editor : Natasha Eka Safrina