TRENGGALEK - Allah ciptakan kita manusia ini tidak lain kecuali hanya untuk membahagiakan dan menyelamatkan kita. Buktinya Allah turunkan Al Qur'an sebagai petunjuk bagaimana cara hidup bahagia dan selamat dunia maupun akhirat.
Demikian juga mengutus Rasul-Nya untuk memberikan contoh bagaimana cara hidup bahagia dan selamat, baik dunia maupun akhirat.
Dalam rangkaian ayat 183-187 Surat Al Baqarah memberikan waktu, sarana, dan kesempatan yang bisa kita manfaatkan untuk memaksimalkan ibadah Ramadhan, salah satunya berupa puasa.
Allah dan Rasul memotivasi merayu kita untuk memaksimalkan ibadah di bulan Ramadan dengan berbagai pendekatan, bagi orang yang berpuasa akan menjadikan pribadi yang bertakwa, pribadi yang pandai bersyukur, dan menjadi pribadi yang lurus (QS Al Baqarah 183,185, 186).
Rasulullah memotivasi dan merayu kita bahwa orang yang puasa akan mendapatkan dua kebahagiaan: kebahagiaan saat berbuka/hari raya, dan kebahagiaan saat bertemu dengan Tuhan-nya/syurga, pintu-pintu syurga buka, pintu-pintu neraka ditutup, syetan-syetan dibelenggu, bau mulut orang puasa lebih wangi daripada kasturi.
Dengan puasa, seseorang juga akan mendapatkan rahmah. Allah ampuni dosa-dosa kita dan Allah akan lepaskan dari azab neraka.
Ada lima pendekatan yang Allah sampaikan kepada kita dalam rangka memotivasi dan merayu supaya kita merasa ringan dalam mengamalkannya. Pertama, pendekatan panggilan, Hai orang-orang yang beriman (Hai orang-orang yang beriman).
Jadi hanya orang beriman saja yang dipanggil oleh Allah untuk berpuasa, tidak semua orang mendapatkan panggilan atau terpanggil untuk berpuasa itu.
Siapa orang beriman itu, mereka adalah orang-orang yang sami"na wa tha'na, yang mendengar dan taat memenuhi panggilan-Nya.
Yang kedua, pendekatan sejarah (sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu), Allah memotivasi dan memberitahu kita bahwa umat nabi-nabi yang terdahulu, sebelum Rasulullah diutus sudah ada syariat puasa, bahkan di agama lain pun juga ada anjuran berpuasa, demikian juga di dunia binatangpun juga ada yang melakukan puasa.
Allah perintahkan kita melihat dan memperhatikan dalam sejarah kesudahan manusia atau binatang yang melakukan puasa.
Dan dalam sejarahnya, setelah puasa, orang itu meningkat kualitas spiritual, mental, dan emosionalnya serta mendapatkan kesuksesan dalam kehidupannya.
Ketiga, pendekatan hikmah/tujuan (agar kamu bertaqwa), Allah SWT menginginkan kita menjadi pribadi yang bertakwa. Pribadi yang memiliki karakter, sifat dan ciri orang yang bisa masuk dalam syurgaNya, memiliki bekal dalam kehidupan, meningkat derajatnya, memberikan jalan keluar dari masalah yang dihadapi, mendapat rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka, dst.
Keempat, dengan pendekatan bahasa (beberapa hari tertentu), bahwa puasa itu hanya bilangan/kumpulan hari. Sama kalau pedagang dalam menawarkan barang yang harga seratus ribu misalnya, dibilang sembilan puluh sembilan ribu rupiah, hingga kelihatan murah.
Allah tidak menyebut bulan tapi memotivasi kita bahwa puasa itu hanya beberapa hari tertentu, hari pertama, kedua, ketiga dst, sampai hari keduapuluh sembilan atau tigapuluh.
Kelima, dengan pendekatan realita, realita dalam, kehidupan ini ada orang yang sehat-ada yang sakit, ada musafir-ada yang muqim, ada yang hamil-ada yang menyusui, ada yang tua-ada yang muda, dst.
Bagi yang realitanya sakit, berat, musafir atau hamil boleh tidak puasa dan mengganti di hari yang lain.
Bagi kita yang sudah tua dan lemah bisa mengganti dengan fidyah. Ramadan bulan kemanusian, saatnya berbagi, menguatkan dan memulihkan, Semoga Ramadhan kita lebih lebih membahagiakan. (mall/din)
Editor : Adinda Putri Sefiana