TRENGGALEK - Ramalan 2026 kembali viral di media sosial setelah sejumlah video YouTube membahas prediksi tujuh peramal dunia tentang masa depan yang disebut penuh gejolak.
Ramalan 2026 itu memuat isu perang besar, krisis ekonomi global, hingga ancaman gempa megathrust di Indonesia.
Dari Baba Vanga, Nostradamus, hingga Jayabaya, narasi yang muncul memiliki benang merah yang sama, yakni dunia disebut memasuki fase tidak stabil.
Video tersebut menyebut prediksi datang dari tokoh lintas zaman dan budaya yang tidak saling terhubung.
Mulai dari peramal abad pertengahan di Eropa hingga ramalan kuno Nusantara.
Tema yang diangkat pun seragam, konflik global, runtuhnya tatanan ekonomi, serta bencana alam berskala besar.
Baba Vanga dan Krisis Ekonomi Global
Nama Baba Vanga kembali disebut dalam ramalan 2026.
Peramal asal Bulgaria yang wafat pada 1996 itu diklaim pernah meramalkan sejumlah peristiwa besar dunia.
Untuk 2026, para pengikutnya menyebut adanya kemerosotan ekonomi global.
Kegagalan perbankan, lonjakan inflasi, hingga ketidakstabilan keuangan disebut menjadi tanda.
Harga emas bahkan diperkirakan melonjak 25 hingga 40 persen sebagai respons atas krisis.
Selain itu, konflik militer di Eropa juga disebut meningkat.
Aliansi baru terbentuk dan ketegangan geopolitik memanas.
Isu lain yang tak kalah kontroversial adalah spekulasi kontak dengan makhluk luar angkasa yang dikaitkan dengan objek misterius di luar angkasa.
Nostradamus dan Bayangan Perang Besar
Ramalan 2026 juga dikaitkan dengan Nostradamus.
Peramal Prancis abad ke-16 itu menulis ratusan syair yang kerap ditafsirkan ulang sesuai konteks zaman.
Salah satu bait yang sering dikutip menyebut “tujuh bulan perang besar”.
Penafsir modern mengaitkannya dengan potensi konflik baru yang dipimpin tokoh kuat dunia.
Ada pula bait yang menyebut Mars sebagai simbol perang.
Sebagian pihak menilai 2026 bisa diwarnai konflik berskala luas.
Meski demikian, Nostradamus juga menulis tentang kebangkitan manusia setelah masa kelam.
Interpretasi ini memberi harapan bahwa krisis global bisa diikuti pembaruan peradaban.
Jayabaya dan Ancaman Megathrust Indonesia
Di Nusantara, ramalan Jayabaya kembali disorot.
Dalam Jangka Jayabaya, terdapat kalimat “Wong Jowo kari separuh” yang sering ditafsirkan sebagai peringatan bencana besar atau perang saudara.
Bait lain menyebut “Naliko bumi gumregah lan segoro ora sare”.
Artinya saat bumi bergerak dan laut tidak tenang.
Penafsir mengaitkannya dengan gempa besar dan tsunami.
Isu ini semakin relevan setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut potensi gempa megathrust di Indonesia tinggal menunggu waktu.
Dari 14 segmen megathrust, Mentawai-Siberut dan Selat Sunda disebut paling berisiko.
Magnitudo gempa diperkirakan bisa mencapai 8 hingga 9 dengan potensi tsunami besar.
Prediksi Peramal Modern
Ramalan 2026 juga datang dari peramal modern seperti Athos Salome dari Brasil.
Ia menyebut potensi konflik baru di kawasan Sahel Afrika dan Arktik.
Selain itu, ada peringatan pandemi baru termasuk varian flu burung.
Yang paling mengkhawatirkan adalah kemungkinan badai matahari besar pada Maret 2026.
Dampaknya disebut bisa melumpuhkan satelit, GPS, komunikasi radio, hingga jaringan listrik global.
Astrolog muda Abhigya Anand juga memprediksi pergeseran besar peradaban.
Ia menyebut potensi gempa bumi kuat, cuaca ekstrem, dan guncangan ekonomi.
Harga emas bahkan diperkirakan melonjak drastis.
Sementara peramal Australia Rose Smith menilai 2026 sebagai tahun kejutan besar.
Perubahan politik, karier selebritas, hingga cuaca ekstrem disebut semakin sering terjadi.
Antara Ramalan dan Fakta Ilmiah
Meski ramalan 2026 terdengar dramatis, para ahli mengingatkan pentingnya menyaring informasi.
Prediksi perang dunia ketiga, krisis ekonomi, atau gempa besar tidak dapat dipastikan waktunya secara ilmiah.
BMKG menegaskan bahwa gempa tidak bisa diprediksi kapan tepatnya terjadi.
Namun mitigasi dan kesiapsiagaan tetap menjadi hal utama.
Indonesia memang berada di Cincin Api Pasifik yang rawan gempa dan tsunami.
Karena itu, edukasi kebencanaan dan kesiapan infrastruktur jauh lebih penting daripada mempercayai ramalan tanpa dasar ilmiah.
Ramalan 2026 mungkin menjadi pengingat bahwa dunia menghadapi banyak tantangan.
Namun respons rasional dan berbasis data tetap menjadi kunci menghadapi masa depan.
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina