Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Pantangan Weton Pahing yang Sering Diabaikan: Dari Ojo Dumeh hingga Larangan Tidur Pagi, Bisa Tutup Pintu Rezeki dan Datangkan Sial

Ichaa Melinda Putri • Jumat, 13 Februari 2026 | 20:40 WIB

Pantangan Weton Pahing yang Sering Diabaikan: Dari Ojo Dumeh hingga Larangan Tidur Pagi, Bisa Tutup Pintu Rezeki dan Datangkan Sial
Pantangan Weton Pahing yang Sering Diabaikan: Dari Ojo Dumeh hingga Larangan Tidur Pagi, Bisa Tutup Pintu Rezeki dan Datangkan Sial

TRENGGALEK NJENGGELEK- Pantangan weton Pahing kembali menjadi sorotan dalam pembahasan primbon Jawa yang ramai di media sosial. Dalam sebuah tayangan spiritual, dijelaskan bahwa pelanggaran pantangan weton Pahing bukan sekadar soal adat, tetapi diyakini berdampak langsung pada rezeki, kesehatan, hingga keharmonisan hidup.

Bagi yang lahir di pasaran Pahing, primbon menyebut mereka berada di bawah naungan elemen api dan simbol harimau. Karakter ini melambangkan kekuatan, karisma, dan jiwa kepemimpinan. Namun di balik potensi besar itu, terdapat sederet pantangan weton Pahing yang tidak boleh disepelekan.

Menurut penjelasan tersebut, api bisa menghangatkan sekaligus membakar. Jika energi besar dalam diri Pahing tidak dikelola dengan bijak, rezeki yang datang bisa habis tak bersisa dan masalah muncul bertubi-tubi.

Ojo Dumeh: Sombong Jadi Penolak Rezeki

Pantangan pertama dan paling utama bagi weton Pahing adalah sifat sombong atau dalam istilah Jawa disebut ojo dumeh. Kepercayaan diri dan wibawa yang tinggi kerap membuat Pahing merasa paling benar.

Dalam narasi primbon, kesombongan disebut sebagai penolak rezeki paling ampuh. Rezeki diibaratkan air yang mengalir ke tempat rendah. Ketika seseorang meninggikan diri dan meremehkan orang lain, aliran keberuntungan diyakini menjauh.

Banyak kisah yang menyebut orang Pahing sukses besar namun jatuh seketika karena ucapan merendahkan atau pamer berlebihan. Solusinya adalah bersikap andap asor, rendah hati, serta selalu ingat bahwa kelebihan hanyalah titipan.

Larangan Tidur Setelah Subuh

Pantangan weton Pahing berikutnya berkaitan dengan kebiasaan pagi hari. Tidur kembali setelah salat subuh atau saat matahari terbit dipercaya dapat menutup pintu rezeki.

Karena Pahing berelemen api dan dekat dengan energi matahari, pagi hari disebut sebagai waktu emas untuk menyerap energi alam. Jika justru digunakan untuk tidur, aura Pahing diyakini menjadi redup dan semangat menurun.

Dalam istilah orang tua Jawa, kebiasaan ini disebut membuat “rezeki dipatok ayam”. Artinya, peluang sudah lewat sebelum disambut. Leluhur menyarankan bangun pagi untuk berdoa, berolahraga ringan, atau merencanakan pekerjaan agar energi api tetap stabil.

Baca Juga: Ramalan Weton Pahing Minggu Ini: Primbon Jawa Ungkap Getaran Batin, Pertemuan Tak Terduga, hingga Ujian Rezeki yang Mengagetkan

Jangan Memelihara Dendam

Sifat setia kawan Pahing bisa berubah menjadi bara dendam ketika disakiti. Padahal, memelihara dendam termasuk pantangan berat.

Pusat energi Pahing disebut berada di cakra jantung. Dendam dianggap menyumbat energi positif sehingga intuisi menjadi tumpul. Dampaknya, keputusan bisnis atau relasi sering salah langkah.

Solusi yang diajarkan adalah sumeleh dan memaafkan demi ketenangan diri. Balas dendam terbaik, menurut ajaran tersebut, adalah kesuksesan, bukan aksi emosional yang merugikan diri sendiri.

Hindari Judi dan Spekulasi Buta

Pantangan finansial weton Pahing juga ditegaskan secara keras: jauhi judi dan spekulasi tanpa perhitungan. Energi panas Pahing jika bertemu “uang panas” hasil spekulasi diyakini bisa memicu kehancuran finansial.

Meski sempat menang, hasilnya disebut tidak awet. Bahkan bisa menyeret tabungan halal ikut lenyap. Pahing disarankan membangun kekayaan secara bertahap melalui usaha nyata seperti berdagang, membeli tanah, atau investasi riil.

Pepatah Jawa Jer Basuki Mawa Bea kembali diingatkan: kesuksesan butuh pengorbanan, bukan jalan pintas.

Jaga Integritas dan Ucapan

Bagi Pahing, berbohong dan ingkar janji disebut sebagai pantangan moral paling berat. Mereka dikenal memiliki “sabda dadi” atau ucapan bertuah. Namun tuah itu hilang jika integritas retak.

Sekali berbohong, reputasi bisa runtuh dan sulit dibangun kembali. Dalam bisnis maupun relasi, menepati janji dianggap sebagai mata uang utama yang menentukan kelanggengan rezeki.

Selain itu, Pahing dianjurkan menghindari gosip dan fitnah. Ungkapan “mulutmu harimaumu” menjadi pengingat agar energi lisan tidak berbalik mencederai diri sendiri.

Jaga Pola Makan dan Kendalikan Api Emosi

Karena berelemen api, Pahing disarankan tidak berlebihan mengonsumsi makanan pedas, panas, atau bersifat memicu emosi seperti alkohol dan daging tertentu.

Asupan panas berlebih diyakini memperpendek sumbu amarah dan mengganggu kesehatan, terutama lambung dan tekanan darah. Diet penyeimbang berupa sayuran hijau, buah berair, serta puasa sunnah dianjurkan untuk meredam hawa panas.

Tubuh yang sejuk dan stabil dipercaya menjadi magnet keberuntungan.

Berbakti pada Orang Tua

Pantangan paling sakral adalah menyakiti orang tua. Dalam budaya Jawa, ridho orang tua disebut sebagai kunci pembuka rezeki.

Weton Pahing yang durhaka diyakini hidupnya seret dan penuh rintangan. Sebaliknya, mereka yang memuliakan orang tua akan mendapat doa yang memperlancar jalan hidup.

Pada akhirnya, seluruh pantangan weton Pahing bukan untuk mengekang, melainkan sebagai rambu kehidupan. Dengan menjaga keseimbangan api dalam diri, Pahing dipercaya mampu menjadi pemimpin bijak yang sukses dan membawa manfaat bagi sekitar.

Editor : Ichaa Melinda Putri
#Larangan pahing #Elemen api #pantangan weton pahing #Primbon Jawa #Ojo Dumeh