SURABAYA – Sebagai penyangga utama ekonomi nasional, profil wilayah Jawa Timur terus menunjukkan signifikansi yang luar biasa. Dengan luas wilayah mencapai 48.000 kilometer persegi, provinsi ini menjadi rumah bagi lebih dari 41,7 juta jiwa. Angka tersebut menempatkan Jawa Timur sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak kedua di Indonesia, sekaligus menjadi pusat industri dan keuangan bagi kawasan tengah serta timur Indonesia.
Dalam struktur perekonomian nasional, profil wilayah Jawa Timur tidak bisa dipandang sebelah mata. Provinsi ini berkontribusi sekitar 15 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, menjadikannya pemegang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tertinggi kedua setelah DKI Jakarta. Sejarah panjang provinsi ini dimulai sejak ditetapkan sebagai salah satu provinsi awal Indonesia pada 12 Oktober 1945, dengan Surabaya sebagai ibu kota sekaligus pusat pergerakan nasional yang heroik.
Secara administratif, profil wilayah Jawa Timur kini terdiri dari 29 kabupaten dan 9 kota. Struktur ini merupakan evolusi dari tujuh karesidenan awal, yakni Surabaya, Madura, Besuki, Malang, Kediri, Madiun, dan Bojonegoro. Melalui Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1950, karesidenan tersebut dihapus dan digantikan dengan pembentukan kabupaten serta kota yang lebih otonom, yang hingga kini terus berkembang secara dinamis.
Karesidenan Surabaya dan Madura: Jantung Industri dan Pintu Gerbang
Karesidenan Surabaya menjadi motor utama dengan Kota Surabaya sebagai pusat pertumbuhan. Surabaya merupakan daerah dengan penduduk terpadat dan PDRB tertinggi di Jawa Timur. Di sekitarnya, terdapat Kabupaten Gresik sebagai pusat industri dan penyebaran Islam, serta Sidoarjo yang memegang rekor PDRB tertinggi kedua. Sementara itu, di seberang jembatan Suramadu, Karesidenan Madura yang terdiri dari Bangkalan, Pamekasan, Sumenep, dan Sampang tetap menjadi pilar budaya dan ekonomi yang unik bagi Jawa Timur.
Besuki dan Malang: Wisata Alam dan Kreativitas
Beralih ke ujung timur, Karesidenan Besuki menawarkan kekayaan alam yang memukau. Kabupaten Banyuwangi, yang dijuluki sebagai The Sunrise of Java, merupakan kabupaten terluas di Jawa Timur dengan fenomena Api Biru (Blue Fire) di Gunung Ijen. Ada pula Situbondo dengan Taman Nasional Baluran yang disebut sebagai Little Africa in Java, serta Jember yang telah mendunia melalui ajang Jember Fashion Carnaval (JFC).
Di wilayah tengah, Karesidenan Malang menonjol dengan Kota Batu yang dijuluki "Swissnya Jawa Timur". Menariknya, Kota Batu merupakan satu-satunya wilayah hasil pemekaran sejak tahun 1950 di provinsi ini. Kabupaten Malang sendiri tercatat sebagai daerah terluas kedua dan penduduk terbanyak kedua, menjadikannya wilayah strategis baik di sektor pariwisata maupun pertanian.
Kediri, Madiun, dan Bojonegoro: Warisan Sejarah dan SDA
Karesidenan Kediri dikenal dengan Kota Kediri yang menjadi pusat industri rokok terbesar di Indonesia, serta Blitar yang menjadi tempat peristirahatan terakhir Sang Proklamator, Ir. Soekarno. Sementara itu, Karesidenan Madiun mengukuhkan diri sebagai pusat industri kereta api nasional (PT INKA) dan rumah bagi kesenian Reog Ponorogo yang telah mendunia. Di bagian selatan, terdapat Pacitan yang dijuluki "Kota 1001 Goa" dengan keindahan Goa Gong yang diakui di Asia Tenggara.
Terakhir, Karesidenan Bojonegoro memegang peran vital dalam ketahanan energi sebagai penghasil minyak bumi terbesar di Jawa Timur. Bersama Tuban yang dikenal sebagai "Kota Wali" dan Lamongan, wilayah ini melengkapi keragaman potensi Jawa Timur. Tak ketinggalan, keagungan Gunung Bromo yang melintasi empat kabupaten (Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Malang) dan Gunung Semeru sebagai puncak tertinggi di Pulau Jawa, semakin mempertegas posisi Jawa Timur sebagai destinasi wisata kelas dunia.
Secara keseluruhan, Jawa Timur adalah provinsi yang berhasil memadukan sejarah panjang, keberagaman budaya, dan dinamika ekonomi modern. Dari industri manufaktur di Barat hingga keindahan matahari terbit di Timur, setiap sudut wilayah ini berkontribusi besar bagi kemajuan Indonesia.
Editor : Natasha Eka Safrina