Radar Trenggalek - Ramadan kembali akan menyapa kita. Bulan yang selalu dinanti oleh umat Islam ini bukan sekadar penanda datangnya kewajiban berpuasa, melainkan momentum spiritual yang menghadirkan harapan, ketenangan, sarana, dan kesempatan untuk memperbaiki kualitas diri kita.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang serbacepat, Ramadan hadir sebagai ruang jeda: mengajak kita menata ulang hati dan kualitas diri.
Ramadan bukanlah bulan yang datang secara tiba-tiba tanpa persiapan. Ia adalah tamu agung yang selayaknya disambut dengan berbagai berkesiapan.
Menyambut Ramadan sejatinya, bagaimana setiap individu, keluarga, dan masyarakat mempersiapkan diri agar ibadah di bulan suci dapat dijalani secara optimal dan bermakna.
Jangan menunggu Ramadan untuk menjadi baik, mari kita jadi baik agar layak menyambut Ramadan.
Pertama: Perbanyak istighfar dan bertaubat kepada Allah. Suatu ketika Syech Hassan al Bashri ditanya santri beliau, “Yaa, Syech mengapa saya sering terlambat bangun malam, padahal sebelum tidur sudah aku persiapkan segala sesuatunya, pakaian, sarung, parfum, air untuk mandi dan wudu dan sebagainya untuk sholat malam?”
Syech Hassan al Bashri mengatakan,” Dosa-dosa kalian itulah yang menghalangi keinginanmu untuk bermunajat kepada Allah.”
Sebagaimana dalam kehidupan, kalau kita punya masalah atau kesalahan dengan orang lain, kita pun tidak bisa akrab dan mesra dengan orang itu, Itulah hakekat dosa dan kesalahannya kita kepada Allah, akan menjadikan kita berat bertemu dan mendekatkan diri kita kepada Allah.
Kedua: Istianah atau minta tolong kepada Allah. Minta tolong bukan tanda kelemahan, justru bukti keimanan dan kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan di hadapan Allah.
Belajar dari orang meninggal dunia, mengapa dia dimandikan, dikafani, disholatkan, dikuburkan dan seterusnya, karena dia tidak mampu melakukan sendiri.
Demikian juga dihadapan Allah, kita mengakui akan keterbatasan, tidak punya kekuatan dan tidak bisa melakukan sesuatu, maka Allah turun tangan untuk memberikan pertolonganNya, maka Allah yang akan mernah-mernahke kita (menolong dan membantu kita).
Ketiga: Taqarub/pemanasan. Setiap perkara penting dalam hidup membutuhkan persiapan. Perjalanan jauh saja kita siapkan bekal, kendaraan, dan tujuan.
Maka Ramadan yang menentukan kualitas iman dan takwa kita, tentu jauh lebih layak untuk dipersiapkan.
Ibarat naik kendaraan mesti bertahap (bukan matic), masuk gigi satu, dua, tiga, empat, dst. Misal langsung gigi empat maka kendaraan itu berat untuk berjalan.
Demikian juga kita tanpa persiapan langsung puasa, tarawih, tadarus, bangun sahur dst. kemungkinan besar berat/lempoh.
Kita kini berada di hari-hari terakhir menjelang Ramadan. Waktu terus berjalan, dan tanpa terasa bulan yang mulia itu semakin dekat.
Sisa waktu yang ada ini sejatinya adalah kesempatan emas untuk mempersiapkan diri dengan bertobat dan memperbanyak istigfar, minta tolong kepada Allah karena laa haula walaa quwata illa billah, serta melakukan pemanasan sebelum memasuki Ramadan.
Semoga dengan persiapan terbaik kita Ramadan tahun ini lebih membawa berkah dan membahagiakan. (mall/din)
Editor : Adinda Putri Sefiana