Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Perajin Batu Bata Keluhkan Penjualan Biaya Produksi Tinggi

Gunawan Awan • Rabu, 18 Februari 2026 | 14:08 WIB
PERLU PERHATIAN: Aktivitas pembuatan batu bata di Desa Gador, Kecamatan Durenan.
PERLU PERHATIAN: Aktivitas pembuatan batu bata di Desa Gador, Kecamatan Durenan.

DURENAN, Radar Trenggalek – Para perajin batu bata di Desa Gador, Kecamatan Durenan, mengeluhkan sulitnya menjual hasil produksi mereka dalam beberapa tahun terakhir. Selain penjualan semakin sepi,  mereka menghadapi tingginya biaya produksi dan mahalnya harga tanah sebagai bahan baku utama. Kondisi ini membuat para pelaku usaha kecil tersebut semakin terhimpit secara ekonomi.

Salah satu perajin batu bata, Mingan, mengaku telah lebih dari 20 tahun menekuni usaha pembuatan batu bata. Awalnya usahanya merupakan turun-temurun keluarganya.

“Saya sudah 20 tahun lebih membuat batu bata. Dulu orang tua saya juga perajin. Sebelumnya kami juga membuat genting,” ujar pria 52 tahun ini.

Dia mengaku kondisi penjualan saat ini sangat berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Jika dahulu hasil produksi bisa langsung habis terjual, kini harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan pembeli.

“Sekarang penjualan macet. Harga jual murah, tapi biaya produksi mahal. Kadang sudah cetak banyak, tapi belum tentu cepat laku,” keluhnya.

Dia menjelaskan, kenaikan biaya produksi terjadi pada hampir semua aspek, mulai dari harga tanah liat hingga biaya bahan bakar untuk proses pembakaran.

Harga tanah sebagai bahan baku utama semakin mahal karena lahan semakin terbatas. Sementara itu, kayu bakar yang digunakan untuk proses pembakaran juga mengalami kenaikan harga.

Meski demikian, dia menegaskan bahwa kualitas batu bata produksi Desa Gador tergolong tinggi. Sebab, tanah yang digunakan merupakan tanah asli tanpa campuran bahan lain.

“Kalau di sini tanahnya asli, tidak dicampur apa-apa. Di daerah lain biasanya ada yang dicampur limbah, seperti abu dari pabrik untuk bahan bakar. Kalau kami tetap pakai kayu bakar dan tanah murni, jadi kualitasnya lebih bagus dan kuat,” jelasnya.

Menurut dia, penggunaan bahan baku alami dan proses pembakaran dengan kayu memang membuat biaya produksi lebih tinggi.

Namun, hal tersebut berpengaruh terhadap kualitas batu bata yang dihasilkan. Batu bata dari Desa Gador dikenal lebih padat, tidak mudah retak, dan memiliki daya tahan yang baik untuk konstruksi bangunan.

Sayangnya, kualitas yang baik belum tentu sebanding dengan harga jual di pasaran. Persaingan dengan produk dari luar daerah yang dijual lebih murah membuat pengrajin lokal kesulitan bersaing.

Banyak konsumen yang lebih memilih harga murah dibandingkan mempertimbangkan kualitas jangka panjang.

Sejumlah perajin lain di Desa Gador juga merasakan hal yang sama. Mereka berharap adanya perhatian dan bantuan dari pemerintah untuk membantu keberlangsungan usaha kecil ini. (gun/c1/din)

Editor : Adinda Putri Sefiana
#Ekonomi Perajin #Desa Gador #batu bata #trenggalek #durenan