KOTA, Radar Trenggalek – Penjualan bunga tabur di pasar tradisional mengalami peningkatan menjelang bulan puasa. Kondisi tersebut bisa terjadi seiring masih berlangsungnya tradisi ziarah makam atau nyekar di masyarakat.
Masyarakat jawa yang masih kental dengan unsur budaya masih memperthankan budaya tersbut. Hal tersebut tentu menjadi berkah bagi para pedangan bunga tabur karena banyaknya permintaan akan bunga tabur untuk berziarah ke makam.
Tradisi ini menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial dan spiritual masyarakat setiap tahunnya menjelang bulan puasa.
Eni, salah satu pedagang bunga tabur di Pasar Sore Kabupaten Trenggalek menyebut jumlah pembeli meningkat dibandingkan hari biasa.
Bunga tabur menjadi salah satu kebutuhan yang dicari masyarakat menjelang awal dan akhir bulan puasa. “Alhamdulillah penjualan meningkat ini,” kata Eni
Menurutnya, tradisi masyarakat yang masih berjalan menjadi faktor utama meningkatnya permintaan. Tradisi nyekar atau ziarah masih dilakukan secara rutin oleh masyarakat pada waktu tertentu.
Kebiasaan tersebut membuat penjualan bunga mengalami peningkatan secara musiman. Pedagang biasanya sudah memperkirakan kenaikan permintaan menjelang awal dan akhir bulan puasa. “Kalau di sini tradisinya kan masih kental,” ujarnya.
Eni menjelaskan bahwa masyarakat biasanya datang membeli bunga untuk keperluan ziarah. Tradisi tersebut dilakukan sebagai bagian dari kebiasaan menjelang bulan puasa maupun pada waktu tertentu lainnya.
“Jadi biasanya setiap menjelang awal atau akhir bulan puasa itu masyarakat ada tradisi nyekar,” lanjutnya.
Kondisi ini membuat para pedagang kembang mengalami peningkatan penjualan dibandingkan hari biasa.
Permintaan biasanya meningkat secara bertahap menjelang waktu-waktu tersebut.
Eni menyebut tradisi tersebut masih terus berlangsung hingga saat ini. Selama tradisi tersebut tetap ada, penjualan bunga tabur juga ikut meningkat di waktu-waktu tertentu. (tra)