JAKARTA - Asal usul Tulungagung tak lepas dari kisah legendaris sayembara mengeringkan Rawa Ngrowo yang digelar Adipati Betak. Cerita rakyat ini menjadi bagian penting sejarah lisan masyarakat Jawa Timur, terutama terkait lahirnya nama Tulungagung yang dipercaya berasal dari ungkapan “pitulungan agung”.
Dalam legenda tersebut, Kadipaten Betak menghadapi persoalan serius. Gelombang pendatang terus berdatangan, namun wilayah kadipaten sudah padat. Satu-satunya lahan tersisa hanyalah rawa luas bernama Ngrowo. Rawa itu hendak dikeringkan agar bisa dijadikan permukiman baru.
Namun upaya Adipati Betak selalu gagal. Setiap kali air disurutkan, genangan kembali meluas. Di tengah rawa terdapat sumber mata air yang memancar tanpa henti. Berbagai cara telah ditempuh, tetapi tak membuahkan hasil.
Baca Juga: Ramalan Shio Kelinci Naga Ular 2026 Tahun Kuda Api: Siapa Paling Bersinar, Siapa Paling Diuji?
Sayembara Mengeringkan Rawa Ngrowo
Dalam kebingungan, sang penasihat mengusulkan sayembara. Siapa pun yang mampu mengeringkan Rawa Ngrowo akan diangkat menjadi patih Kadipaten Betak. Tawaran jabatan strategis itu segera mengundang perhatian banyak orang.
Berita sayembara menyebar ke seluruh penjuru negeri. Banyak yang datang mengadu kesaktian dan kepandaian. Namun satu per satu peserta gagal. Air rawa tetap kembali menggenang, seolah mustahil ditaklukkan.
Hari demi hari berlalu hingga tiba hari terakhir sayembara. Harapan Adipati Betak mulai pudar. Ia hampir menyerah dan menganggap rawa tersebut memang ditakdirkan tetap menjadi genangan air.
Munculnya Jaka Baru dari Lereng Gunung Wilis
Di saat genting itulah, seorang pemuda bernama Jaka Baru datang menghadap. Ia mengaku berasal dari lereng Gunung Wilis. Dengan penuh keyakinan, ia menyatakan kesediaannya mengikuti sayembara meski mempertaruhkan nyawa.
Sebelum bertindak, Jaka Baru meminta izin pulang untuk memohon restu ayahnya, Ki Ageng Mangir, yang tengah bertapa. Sang ayah memberi petunjuk sederhana namun sarat makna: carilah pohon aren, ambil segenggam ijuk dan sebatang lidi. Gunakan untuk menyumbat sumber mata air di tengah rawa, disertai doa dan permohonan restu kepada alam.
Petunjuk itu tampak sederhana dibanding kesaktian para peserta sebelumnya. Namun di situlah letak kearifan lokal yang menjadi inti legenda asal usul Tulungagung.
Keajaiban di Tengah Rawa
Keesokan harinya, Jaka Baru kembali ke Kadipaten Betak. Di hadapan Adipati Betak dan para saksi, ia memanjatkan doa sebelum masuk ke rawa. Dengan tekad bulat, ia menyelam mencari sumber mata air yang selama ini menjadi penyebab kegagalan.
Setelah ditemukan, ia segera menyumbat sumber tersebut dengan ijuk aren, lalu menancapkan lidi di sisinya. Ajaib, aliran air yang tak pernah berhenti itu mendadak terhenti. Perlahan, air rawa surut hingga wilayah Ngrowo benar-benar mengering.
Adipati Betak menyaksikan langsung peristiwa itu. Dengan penuh haru ia menyebut keberhasilan tersebut sebagai “pitulungan agung” atau pertolongan besar dari Sang Pencipta. Ungkapan itu diucapkannya berulang kali sebagai bentuk rasa syukur.
Sesuai janji, Jaka Baru diangkat menjadi patih Kadipaten Betak.
Dari Rawa Ngrowo Menjadi Tulungagung
Sejak keberhasilan itu, wilayah bekas rawa berubah menjadi lahan subur dan pusat kehidupan baru. Para pendatang mulai menetap, membangun rumah, dan mengembangkan kawasan tersebut. Seiring waktu, pusat pemerintahan dipindahkan ke wilayah yang semula berupa rawa itu.
Dari ucapan “pitulungan agung” yang sering dilontarkan Adipati Betak, masyarakat kemudian menyebut daerah tersebut sebagai Tulungagung. Dalam perkembangan bahasa Jawa, istilah itu diyakini mengalami perubahan fonetik hingga menjadi nama kabupaten yang dikenal sekarang.
Legenda ini bukan sekadar cerita rakyat. Ia merefleksikan nilai kerja keras, keteguhan hati, serta harmoni manusia dengan alam. Kearifan lokal yang diwariskan melalui kisah asal usul Tulungagung juga menunjukkan bahwa solusi besar kadang lahir dari cara sederhana, selama dilandasi niat baik dan restu orang tua.
Hingga kini, Rawa Ngrowo tetap menjadi bagian dari identitas sejarah Tulungagung. Cerita Jaka Baru dan sayembara Adipati Betak terus diceritakan dari generasi ke generasi sebagai simbol perjuangan, kepemimpinan, dan lahirnya sebuah daerah dari “pertolongan agung”.
Baca Juga: Ramalan Shio Imlek 2577: 5 Shio Paling Beruntung di Tahun Kuda Api, Rezeki dan Popularitas Melejit!
Editor : Natasha Eka Safrina