JAKARTA – Sejarah Tulungagung mencatat perjalanan panjang sebuah wilayah yang telah dihuni manusia sejak ribuan tahun lalu, jauh sebelum munculnya kerajaan-kerajaan besar di Jawa Timur. Bukti arkeologis menunjukkan bahwa kawasan ini telah menjadi tempat hidup manusia purba pada masa prasejarah yang menggantungkan hidup dari alam sekitar.
Penemuan artefak di gua-gua kawasan pegunungan selatan seperti Song Gentong, Song Terus, dan Song Banyu Urip memperkuat fakta tersebut. Alat batu, kapak perimbas, alat serpih, serta sisa tulang hewan menjadi bukti bahwa manusia purba di wilayah yang kini menjadi Kabupaten Tulungagung hidup dengan pola berburu dan meramu. Mereka memilih gua dan daerah dekat sungai sebagai tempat tinggal sementara yang aman dan strategis.
Jejak Prasejarah hingga Pengaruh Hindu Awal
Selain peninggalan paleolitikum, Tulungagung juga menyimpan jejak neolitikum dan megalitikum. Menhir, dolmen, serta sarkofagus ditemukan di wilayah seperti Kecamatan Campur Darat dan Kalidawir. Temuan ini menandakan berkembangnya kepercayaan spiritual terhadap roh leluhur dan sistem penguburan yang kompleks, mencerminkan struktur sosial awal yang cukup maju.
Baca Juga: Ramalan Shio Kelinci Naga Ular 2026 Tahun Kuda Api: Siapa Paling Bersinar, Siapa Paling Diuji?
Memasuki abad ke-8 Masehi, wilayah ini mulai masuk dalam pengaruh Kerajaan Kanjuruhan yang berpusat di Malang. Meski tidak menjadi pusat pemerintahan, Tulungagung berada dalam zona pengaruh budaya dan agraris Kanjuruhan, terutama dalam sistem pertanian, irigasi, serta penyebaran agama Hindu Siwa dan aksara Jawa Kuno.
Era Medang dan Prasasti Lawadan
Pada abad ke-10, Tulungagung berada di bawah pengaruh Kerajaan Medang setelah pusat kekuasaan berpindah ke Jawa Timur di bawah pemerintahan Mpu Sindok. Wilayah selatan Lembah Sungai Brantas ini menjadi jalur penghubung penting antara daerah agraris pedalaman dan pesisir selatan.
Bukti tertulis paling penting adalah Prasasti Lawadan yang ditemukan di Boyolangu dan diperkirakan berasal dari tahun 921 Masehi. Prasasti ini menetapkan Boyolangu sebagai wilayah sima atau tanah perdikan bebas pajak, menandakan peran penting daerah tersebut dalam kegiatan keagamaan dan pemerintahan awal Jawa Timur.
Kediri, Singhasari, hingga Majapahit
Pada masa Kerajaan Kediri (abad ke-11–12), Tulungagung berkembang sebagai lumbung pangan utama kerajaan. Sistem irigasi kuno dan pertanian padi menjadikan wilayah ini sangat vital bagi stabilitas ekonomi. Pengaruh Hindu Siwa semakin kuat, terlihat dari temuan arca-arca dan situs pertapaan.
Era Kerajaan Singhasari membawa integrasi administratif yang lebih ketat dan corak sinkretisme Siwa-Buddha. Tradisi spiritual, pertapaan, dan pembangunan candi kecil memperkaya budaya lokal Tulungagung sebagai wilayah religius.
Puncaknya terjadi pada masa Kerajaan Majapahit. Tulungagung berperan sebagai daerah penyangga ekonomi dan spiritual. Salah satu peninggalan paling penting adalah Arca Gayatri di Boyolangu, simbol penghormatan kepada Sri Rajapatni, ibu Hayam Wuruk. Keberadaan arca ini menegaskan status Boyolangu sebagai kawasan suci pada masa Majapahit.
Islamisasi hingga Kolonialisme
Memasuki abad ke-15, pengaruh Islam mulai masuk melalui jalur budaya, perdagangan, dan dakwah damai dari jaringan ulama yang terhubung dengan Kesultanan Demak dan Pajang. Tradisi lokal berpadu dengan nilai Islam, melahirkan praktik budaya khas seperti selametan dan tahlilan.
Pada abad ke-17, Tulungagung berada di bawah kekuasaan Kesultanan Mataram, lalu memasuki era kolonial Belanda dengan nama Ngrowo. Sistem tanam paksa, pembangunan irigasi, jalan, dan jembatan membentuk fondasi tata ruang modern, meski dibarengi penderitaan rakyat.
Nama Tulungagung resmi digunakan sejak 1901, menggantikan Ngrowo, merujuk pada makna “tulung” (mata air) dan “agung” (besar).
Dari Perjuangan hingga Kabupaten Modern
Pada masa kemerdekaan, Tulungagung menjadi basis gerilya melawan Belanda. Setelah 1949, wilayah ini berkembang sebagai kabupaten otonom. Era Orde Baru menjadikannya lumbung padi nasional dan pusat industri marmer.
Kini, Tulungagung dikenal sebagai daerah yang memadukan kemajuan ekonomi dengan pelestarian budaya. Sejarah Tulungagung bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan fondasi identitas masyarakat yang terus hidup dan berkembang hingga hari ini.
Editor : Natasha Eka Safrina