JAKARTA – Asal usul Tulungagung menyimpan kisah panjang tentang perjuangan manusia melawan alam. Jauh sebelum dikenal sebagai wilayah yang subur dan produktif, daerah ini merupakan hamparan rawa luas di selatan Gunung Wilis yang dikelilingi aliran Bengawan Brantas dan anak-anak sungainya. Kondisi geografis inilah yang membentuk sejarah awal Tulungagung sebagai daerah penuh tantangan.
Pada masa lampau, sebagian besar wilayah Tulungagung berupa dataran rendah cekung yang selalu tergenang air. Rawa-rawa luas mendominasi bentang alam dan dikenal masyarakat setempat sebagai Bonorowo. Air yang melimpah justru menjadi sumber bencana. Saat musim hujan tiba atau Bengawan Brantas meluap, genangan air dengan cepat menenggelamkan permukiman dan lahan pertanian.
Kondisi inilah yang membuat masyarakat hidup dalam keterbatasan. Rumah panggung menjadi pilihan utama, sementara transportasi darat kerap terputus. Sungai yang seharusnya menjadi sumber kehidupan justru sering membawa petaka banjir. Namun dari lingkungan yang keras ini, tumbuh karakter masyarakat yang ulet dan pantang menyerah.
Baca Juga: Ramalan Shio Kelinci Naga Ular 2026 Tahun Kuda Api: Siapa Paling Bersinar, Siapa Paling Diuji?
Ngowo, Nama Lama yang Mencerminkan Derita Alam
Nama awal wilayah Tulungagung adalah Ngowo. Istilah ini berasal dari kata “rowo” dalam bahasa Jawa yang berarti rawa. Penamaan tersebut bukan sekadar label geografis, melainkan gambaran nyata kondisi wilayah yang selalu tergenang air. Ketika orang menyebut Ngowo, yang terbayang adalah hamparan Bonorowo, lumpur, banjir, dan perjuangan hidup yang berat.
Nama Ngowo membawa konotasi negatif sebagai daerah sulit, terbelakang, dan rawan bencana. Selama berabad-abad, rawa Bonorowo menjadi penghambat utama kemajuan ekonomi dan sosial. Sawah sering gagal panen, ternak mati akibat banjir, dan penyakit seperti malaria mudah menyebar karena lingkungan yang lembap dan sanitasi buruk.
Isolasi antarwilayah juga menjadi masalah serius. Jalan darat berubah menjadi kubangan lumpur, sementara perahu menjadi satu-satunya alat transportasi. Akibatnya, perkembangan sosial dan ekonomi berjalan sangat lambat.
Ikhtiar Kolektif Menaklukkan Rawa Bonorowo
Meski hidup dalam kepungan rawa, masyarakat Ngowo tidak tinggal diam. Kesadaran bahwa Bonorowo adalah sumber utama penderitaan mendorong berbagai ikhtiar untuk menaklukkannya. Penduduk mulai membangun tanggul kecil, menggali saluran air sederhana, dan melakukan kerja bakti untuk mengurangi genangan.
Upaya ini semakin mendapat perhatian ketika pengaruh Kesultanan Mataram mulai menjangkau wilayah selatan Jawa Timur. Penguasa tentu berkepentingan agar daerah kekuasaan dapat dikelola secara produktif. Pengelolaan air menjadi kebutuhan mendesak, meski masih terbatas oleh teknologi dan sumber daya.
Perubahan signifikan terjadi ketika pengelolaan air dilakukan secara lebih sistematis dan berskala besar. Saluran drainase diperlebar, tanggul penahan banjir diperkuat, dan aliran sungai ditata agar kelebihan air bisa dialirkan ke laut. Proses ini berlanjut hingga masa pemerintahan kolonial Belanda yang memiliki kepentingan ekonomi di wilayah ini.
Pitulungan Agung dan Lahirnya Nama Tulungagung
Keberhasilan mengendalikan rawa Bonorowo menjadi titik balik sejarah. Perlahan namun pasti, luas rawa menyusut. Lahan kering terbuka, pertanian berkembang, dan banjir mulai bisa dikendalikan. Bagi masyarakat, keberhasilan ini dirasakan sebagai sebuah pertolongan besar atau pitulungan agung.
Dari sinilah gagasan mengganti nama Ngowo muncul. Nama lama dianggap tidak lagi mencerminkan kondisi baru yang penuh harapan. Nama Tulungagung kemudian dipilih, yang dimaknai sebagai “pertolongan besar” sekaligus “sumber air yang agung”. Air yang dulu menjadi sumber bencana kini berubah menjadi sumber kehidupan melalui sistem irigasi.
Perubahan nama ini menandai era baru. Tulungagung bukan lagi simbol rawa dan penderitaan, melainkan wilayah dengan potensi kemakmuran. Secara administratif, nama Tulungagung kemudian diformalkan oleh penguasa setempat dan terus digunakan hingga kini.
Hari Jadi Tulungagung dan Akar Sejarah Kuno
Meski nama Tulungagung muncul relatif belakangan, hari jadi kabupaten ini ditetapkan pada 18 November 1205. Penetapan tersebut merujuk pada Prasasti Lawadan atau Prasasti Boyolangu yang dikeluarkan oleh Kerajaan Kediri. Prasasti ini menjadi bukti tertulis tertua tentang eksistensi komunitas terorganisir di wilayah Tulungagung.
Dengan demikian, asal usul Tulungagung bukan sekadar cerita perubahan nama. Ia adalah kisah panjang tentang perjuangan, ketangguhan, rasa syukur, dan harapan masyarakat dalam menaklukkan alam dan membangun peradaban di tanah yang dahulu dianggap tak ramah.
Editor : Natasha Eka Safrina