TULUNGAGUNG - Sejarah Tumenggung Surontani di Tulungagung menjadi bagian penting dalam babad lokal yang masih dipercaya masyarakat hingga kini. Nama tokoh ini lekat dengan berdirinya Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu. Tak hanya dikenal sebagai pembuka hutan belantara, kisahnya juga diselimuti cerita mistis yang membuat situs makamnya kerap diziarahi.
Setiap wilayah di Tulungagung memiliki riwayatnya sendiri. Namun, sejarah Tumenggung Surontani di Tulungagung menempati posisi istimewa karena berkaitan langsung dengan cikal bakal terbentuknya permukiman di Wajak Kidul. Dalam cerita turun-temurun, Surontani disebut sebagai tokoh sakti yang berhasil mengubah kawasan hutan menjadi desa yang makmur.
Kini, makam Tumenggung Surontani berada di tengah permukiman warga Desa Wajak Kidul. Letaknya yang strategis membuat kompleks pemakaman tersebut relatif terawat. Juru kunci bersama masyarakat sekitar menjaga kebersihan dan kesakralan lokasi yang diyakini sebagai salah satu situs bersejarah di Tulungagung.
Baca Juga: Ramalan Shio Kelinci Naga Ular 2026 Tahun Kuda Api: Siapa Paling Bersinar, Siapa Paling Diuji?
Tokoh Pembuka Desa Wajak Kidul
Berdasarkan cerita rakyat setempat, Tumenggung Surontani bukan sekadar tokoh biasa. Ia disebut memiliki kesaktian dan kepemimpinan kuat dalam membuka wilayah baru. Pada masa itu, kawasan yang kini menjadi Wajak Kidul masih berupa hutan lebat. Dengan tekad dan kemampuan yang dimilikinya, ia memimpin pembukaan lahan hingga akhirnya berdiri sebuah desa.
Nama Surontani pun masuk dalam babad Tulungagung sebagai figur penting dalam perkembangan wilayah selatan Jawa Timur. Desa Wajak Kidul yang kini berkembang pesat diyakini menjadi bukti nyata perjuangannya.
Selain sebagai pembuka desa, Surontani juga disebut memiliki pengaruh dalam bidang pertanian dan tata pemerintahan lokal pada masanya. Meski catatan tertulis terbatas, kisahnya terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.
Makam di Tengah Permukiman
Situs makam Tumenggung Surontani berada di lokasi yang cukup unik. Berada di tengah-tengah rumah penduduk, kompleks ini tidak terisolasi seperti makam keramat pada umumnya. Justru karena berada di lingkungan warga, kondisinya terawat dan mudah diakses peziarah.
Setiap waktu tertentu, terutama malam Jumat Legi, makam ini ramai dikunjungi masyarakat yang datang untuk berdoa atau sekadar mengenang jasa tokoh tersebut. Tradisi ziarah menjadi bagian dari budaya lokal yang masih bertahan.
Selain makam Surontani, di kawasan itu juga terdapat makam tokoh lain yang disebut dalam cerita masyarakat, seperti Mbah Demang Surogongso dan Mbah Nurradin. Keberadaan makam-makam ini semakin memperkuat nilai historis dan spiritual lokasi tersebut.
Mitos Macan Putih Penjaga Makam
Yang membuat sejarah Tumenggung Surontani di Tulungagung semakin menarik adalah mitos tentang macan putih gaib. Warga sekitar percaya, sosok macan putih kerap menampakkan diri kepada orang yang memiliki niat buruk saat berkunjung ke makam.
Kepercayaan ini sudah berlangsung lama dan menjadi bagian dari cerita mistis yang menyelimuti situs tersebut. Bagi masyarakat setempat, macan putih dianggap sebagai simbol penjaga spiritual makam Surontani.
Meski demikian, sebagian warga memandang kisah tersebut sebagai pengingat agar setiap orang yang datang tetap menjaga sikap dan sopan santun. Terlepas dari benar atau tidaknya mitos tersebut, cerita macan putih menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Warisan Sejarah dan Identitas Lokal
Sejarah Tumenggung Surontani di Tulungagung bukan hanya soal tokoh pembuka desa atau kisah mistis semata. Lebih dari itu, cerita ini menjadi bagian dari identitas masyarakat Wajak Kidul. Nilai perjuangan, keberanian membuka wilayah baru, serta kearifan lokal tercermin dalam kisah tersebut.
Baca Juga: 7 HP 1 Jutaan dengan NFC dan Speaker Stereo Terbaik 2026, Ada Tecno, Infinix hingga Motorola !
Di tengah arus modernisasi, keberadaan situs makam ini menjadi pengingat bahwa Tulungagung memiliki akar sejarah yang kuat. Tradisi menjaga makam, menghormati leluhur, dan melestarikan cerita rakyat menunjukkan betapa pentingnya warisan budaya bagi masyarakat.
Kini, Desa Wajak Kidul terus berkembang sebagai bagian dari Kecamatan Boyolangu. Namun nama Tumenggung Surontani tetap dikenang sebagai tokoh yang berjasa dalam babad Tulungagung. Kisahnya menjadi bukti bahwa sejarah lokal memiliki daya hidup yang panjang, diwariskan dari generasi ke generasi.
Editor : Natasha Eka Safrina