Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Asal-usul Gunung Cilik Tulungagung Terkuak: Kisah Roro Kembangsore, Resi Wanita Sakti dan Tragedi Cinta di Babad Tulungagung

Natasha Eka Safrina • Jumat, 20 Februari 2026 | 18:00 WIB

Asal-usul Gunung Cilik Tulungagung, kisah Roro Kembangsore, resi wanita sakti, tragedi cinta dan babad sejarah Tulungagung.
Asal-usul Gunung Cilik Tulungagung, kisah Roro Kembangsore, resi wanita sakti, tragedi cinta dan babad sejarah Tulungagung.

TULUNGAGUNG - Asal-usul Gunung Cilik Tulungagung menyimpan kisah panjang yang sarat nilai sejarah, spiritualitas, dan tragedi cinta. Gunung kecil yang berada di Desa Bolo, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung ini bukan sekadar pemakaman Tionghoa, melainkan juga jejak penting dalam rangkaian babad Tulungagung yang hingga kini masih hidup dalam cerita masyarakat.

Dalam tradisi Jawa, penghormatan terhadap tokoh berjasa kerap diwujudkan dengan merawat makam, mengenang kisah hidupnya, dan mewariskan cerita kepada generasi berikutnya. Hal inilah yang melekat pada Gunung Cilik, tempat yang diyakini pernah menjadi lokasi pertapaan seorang resi wanita sakti bernama Resi Indah atau Resi Winadi.

Berdasarkan buku Tulungagung dalam Rangkaian Obyek Wisata Budaya dan Sejarah terbitan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tulungagung tahun 2007, Resi Indah bukan tokoh sembarangan. Ia dikenal sebagai pendeta sekaligus empu sakti yang mampu menciptakan pusaka luar biasa, bahkan dikisahkan mampu merontokkan dedaunan dan merobohkan pohon beringin.

Baca Juga: Rekomendasi HP 2 Jutaan Terbaik Februari 2026: Infinix, Samsung, Tecno hingga Motorola, Ini 7 Allrounder Paling Worth It!

Resi Indah dan Identitas Roro Kembangsore

Dalam babad Tulungagung, Resi Indah disebut sebagai samaran dari seorang perempuan bangsawan bernama Roro Kembangsore. Ia adalah putri Pangeran Bedalem dari Kadipaten Betak, sosok yang termasyhur karena kecantikan dan keteguhan hatinya. Kehidupan Roro Kembangsore berubah drastis akibat fitnah yang dilontarkan pamannya sendiri, Pangeran Kalang.

Roro Kembangsore dituduh menjalin hubungan terlarang dengan Pangeran Lembupeteng, putra raja dari Kerajaan Majapahit. Fitnah itu berujung tragis. Pangeran Lembupeteng tewas, sementara Roro Kembangsore terpaksa melarikan diri untuk menyelamatkan nyawanya.

Pelarian itu membawanya menjalani laku tapa di Gunung Cilik. Di sanalah ia dikenal sebagai Resi Indah atau Resi Winadi, seorang pendeta wanita yang memilih jalan spiritual setelah dikhianati oleh keadaan dan orang-orang terdekatnya.

Baca Juga: Review Jaecoo J5, Mobil Listrik SUV Rp 450 Jutaan Rasa Premium: Tanjakan Terjal Bukit Sentul Dilibas Tanpa Drama

Tragedi Cinta dan Darah Bangsawan

Kisah cinta Roro Kembangsore dan Pangeran Lembupeteng menjadi salah satu episode paling menyayat dalam babad Tulungagung. Keduanya digambarkan saling mencintai dengan tulus, namun hubungan itu dipergoki oleh Pangeran Kalang. Fitnah pun dilaporkan kepada Pangeran Bedalem hingga memicu konflik berdarah.

Dalam pelarian mereka, Pangeran Lembupeteng akhirnya dibunuh dan jasadnya dibuang ke sungai. Peristiwa ini meninggalkan luka mendalam bagi Roro Kembangsore. Ia menolak kembali ke istana dan memilih hidup mengembara, hingga akhirnya menetap di kawasan Gunung Cilik.

Legenda Gunung Budeg dan Kutukan Kata

Cerita Gunung Cilik juga berkaitan dengan legenda lain yang masih dipercaya masyarakat, yakni asal-usul Gunung Budeg. Dalam kisahnya, Roro Kembangsore sempat tinggal di Desa Dadapan dan bertemu Mbok Rondo Dadapan beserta putranya, Joko Bodo. Karena cintanya ditolak, Joko Bodo menjalani tapa bisu.

Namun, sebuah kutukan terucap akibat emosi sang ibu. Joko Bodo dipercaya berubah menjadi batu setelah tersambar petir. Dari peristiwa itulah muncul nama Gunung Budeg, yang hingga kini dikenal masyarakat sekitar.

Baca Juga: Nokia Lumia Max 2026 Bocor! HP Legendaris Ini Siap Comeback dengan Snapdragon 870, Kamera 108 MP dan Baterai 6000 mAh?

Akhir Dendam dan Peran Gajah Mada

Konflik belum berakhir. Pangeran Kalang, tokoh antagonis dalam kisah ini, akhirnya tewas secara mengenaskan. Dalam babad diceritakan, ia diburu dan dibunuh oleh pasukan yang dipimpin oleh Gajah Mada, yang kala itu masih dikenal sebagai Perwira Mada. Peristiwa ini menjadi penutup tragis dari rangkaian pengkhianatan dan dendam.

Bagi masyarakat Tulungagung, asal-usul Gunung Cilik Tulungagung bukan sekadar legenda. Kisah ini menjadi pengingat tentang fitnah, kesetiaan, cinta, dan pilihan hidup yang membawa konsekuensi besar. Gunung Cilik kini dipandang sebagai situs sejarah dan spiritual, simbol keteguhan seorang perempuan yang memilih jalan tapa di tengah luka dan pengkhianatan.

Editor : Natasha Eka Safrina
#babad tulungagung #roro kembang sore #sejarah tulungagung