Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Pesugihan Roro Kembangsore di Tulungagung: Ritual, Syarat Zina, hingga Mitos Perceraian di Bukit Bolo

Natasha Eka Safrina • Jumat, 20 Februari 2026 | 18:05 WIB

Asal-usul Gunung Cilik Tulungagung, kisah Roro Kembangsore, resi wanita sakti, tragedi cinta dan babad sejarah Tulungagung.
Asal-usul Gunung Cilik Tulungagung, kisah Roro Kembangsore, resi wanita sakti, tragedi cinta dan babad sejarah Tulungagung.

TULUNGAGUNG - Praktik pesugihan Roro Kembangsore di Tulungagung kembali menjadi perbincangan publik. Lokasinya berada di Bukit Bolo, Desa Pulorejo, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung. Makam kuno yang diyakini sebagai petilasan Roro Kembangsore itu disebut-sebut memiliki tuah gaib yang dapat membantu seseorang memperoleh kekayaan secara instan.

Isu pesugihan Roro Kembangsore bukan cerita baru. Praktik ini telah lama berkembang secara turun-temurun di tengah masyarakat. Di balik kisah mistisnya, fenomena tersebut kerap dikaitkan dengan tekanan ekonomi dan minimnya pemahaman agama, sehingga sebagian orang memilih jalan pintas demi memperbaiki taraf hidup.

Dalam tradisi Jawa, istilah “ngalap berkah” sering diartikan sebagai mencari keberkahan melalui ziarah. Namun, dalam konteks pesugihan Roro Kembangsore, ritual yang dilakukan sebagian peziarah disebut melampaui batas kewajaran dan mengarah pada praktik persekutuan dengan makhluk gaib.

Baca Juga: Ramalan Shio Kelinci Naga Ular 2026 Tahun Kuda Api: Siapa Paling Bersinar, Siapa Paling Diuji?

Ritual Malam dan Umbarampe Khusus

Menurut cerita yang beredar, aktivitas di kawasan makam meningkat pada malam hari. Pengunjung datang dengan berbagai tujuan. Ada yang sekadar berziarah dan berdoa, ada pula pedagang yang berharap dagangannya laris, penyanyi yang ingin populer, hingga mereka yang secara terang-terangan berniat mencari pesugihan.

Para pencari pesugihan biasanya membawa syarat khusus atau umbarampe. Di antaranya nasi gurih, ayam panggang, bunga telon, minyak wangi, dan kemenyan. Setelah ritual dilakukan, mereka disebut tidak boleh berhenti di sekitar Gunung Bolo saat perjalanan pulang.

Tidak berhenti di situ, ritual lanjutan juga dipercaya harus dijalani bila permohonan dianggap terkabul. Pada Jumat Pon, pelaku disebut wajib menyembelih kambing di makam Roro Kembangsore dan kembali menaruh sesaji di lokasi tersebut.

Syarat Kontroversial dan Dugaan Prostitusi Terselubung

Bagian paling kontroversial dari pesugihan Roro Kembangsore adalah adanya syarat yang dipercaya dapat mempercepat terkabulnya permintaan. Sebagian mitos menyebut pelaku harus melakukan hubungan terlarang dengan orang lain yang bukan pasangan sahnya.

Keyakinan ini memicu fenomena sosial lain. Di sekitar lokasi, muncul dugaan praktik prostitusi terselubung yang dikaitkan dengan ritual tersebut. Beberapa orang menawarkan diri untuk memenuhi syarat yang diyakini sebagian pencari pesugihan sebagai jalan mempercepat hasil.

Baca Juga: Review Vivo V60: Kamera Telefoto Periskop Pertama di V Series, Baterai 6.500 mAh dan Snapdragon 7 Gen 4

Selain itu, terdapat mitos lain yang tak kalah menarik perhatian. Konon, pengunjung tidak diperbolehkan membawa suami atau istri saat berziarah. Jika dilanggar, dipercaya dapat memicu prahara rumah tangga hingga perceraian. Meski belum pernah terbukti secara empiris, cerita tersebut telah lama hidup dalam tradisi lisan masyarakat setempat.

Sosok Roro Kembangsore dalam Legenda

Terlepas dari praktik pesugihan, sosok Roro Kembangsore sendiri memiliki kisah berbeda dalam legenda lokal. Ia disebut sebagai putri Adipati Bedalem dari Kadipaten Bonorowo. Selain dikenal cantik, Roro Kembangsore digambarkan sebagai perempuan berbudi luhur dan dekat dengan rakyat kecil.

Dalam sejumlah versi cerita rakyat Tulungagung, Roro Kembangsore tetap dipuja hingga akhir hayatnya. Namun, tidak ada catatan pasti mengenai kapan dan bagaimana ia wafat. Makamnya di Bukit Bolo kemudian menjadi lokasi yang dikeramatkan.

Sebagian masyarakat meyakini makam tersebut sebagai tempat ngalap berkah, sementara sebagian lainnya memandang praktik pesugihan sebagai penyimpangan ajaran agama. Perbedaan pandangan ini menunjukkan adanya tarik-menarik antara tradisi mistis dan nilai keagamaan yang terus berlangsung hingga kini.

Baca Juga: Mobil Listrik Murah 2026 Terancam Naik Harga! Ini 5 Mobil Listrik Murah Terbaik Sebelum Subsidi PPNBM Dihapus

Antara Kepercayaan dan Rasionalitas

Fenomena pesugihan Roro Kembangsore mencerminkan realitas sosial di tengah tekanan ekonomi. Ketika kebutuhan hidup meningkat dan peluang terbatas, sebagian orang tergoda mencari solusi instan, meski harus menempuh cara yang kontroversial.

Namun, tokoh agama setempat kerap mengingatkan bahwa mencari kekayaan melalui jalan pintas, apalagi dengan praktik menyimpang, bertentangan dengan ajaran agama. Mereka mengimbau masyarakat agar tetap berusaha secara rasional dan memohon hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Hingga kini, makam Roro Kembangsore tetap ramai dikunjungi, baik oleh peziarah maupun wisatawan yang penasaran dengan kisah mistisnya. Di balik kabut mitos dan cerita pesugihan, Bukit Bolo menyimpan potret kompleks tentang budaya, kepercayaan, dan dinamika sosial masyarakat Tulungagung.

Baca Juga: 7 HP Kamera 4K OIS Terbaik untuk Content Creator 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan hingga Rp4 Jutaan

Editor : Natasha Eka Safrina
#ritual pesugihan #sejarah tulungagung #Roro Kembangsore