TULUNGAGUNG - Mitos pesugihan Ngujang Tulungagung kembali menjadi bahan perbincangan masyarakat. Lokasinya berada di kawasan Ngujang atau yang juga dikenal sebagai Ketekan, sebuah tempat pemakaman umum (TPU) yang terletak di sebelah utara Kota Tulungagung, tepat di sekitar Jembatan Ngujang. Meski secara administratif merupakan TPU, kawasan ini lekat dengan berbagai cerita mistis yang berkembang turun-temurun.
Bagi warga sekitar, mitos pesugihan Ngujang Tulungagung bukanlah kisah baru. Sejak lama, tempat ini disebut-sebut sebagai lokasi ritual pesugihan hingga praktik prostitusi terselubung pada malam hari. Benar atau tidaknya cerita tersebut, semuanya kembali pada kepercayaan masing-masing individu.
Dalam berbagai cerita lisan, Ngujang kerap disandingkan dengan lokasi-lokasi lain di Tulungagung yang dikenal memiliki aura mistis. Narasi tersebut semakin kuat karena keberadaan ratusan kera yang hidup bebas di area pemakaman dan sekitar jembatan.
Baca Juga: Ramalan Shio Kelinci Naga Ular 2026 Tahun Kuda Api: Siapa Paling Bersinar, Siapa Paling Diuji?
Kera Ngujang yang Muncul dan Menghilang
Salah satu hal paling mencolok dari mitos pesugihan Ngujang Tulungagung adalah keberadaan kera-kera liar. Hewan-hewan tersebut kerap terlihat bergelantungan di pepohonan, pagar makam, hingga jembatan. Namun pada waktu tertentu, kera-kera ini disebut bisa menghilang tanpa jejak.
Fenomena tersebut memunculkan beragam spekulasi. Ada yang percaya kera-kera itu berpindah tempat secara gaib, ada pula yang menyebut mereka bersembunyi di bawah jembatan dan area semak. Menurut keterangan juru kunci setempat, kera tersebut sejatinya adalah kera biasa, bukan jelmaan makhluk halus maupun manusia.
Jumlah kera juga sering menjadi bahan mitos. Konon, jumlahnya bisa berkurang atau bertambah secara misterius. Namun berdasarkan penuturan juru kunci, populasi kera di Ngujang relatif stabil, berkisar lebih dari 200 ekor dan hidup berkelompok.
Kisah Kutukan Santri oleh Sunan Kalijaga
Cerita lain yang menguatkan mitos pesugihan Ngujang Tulungagung adalah legenda yang dikaitkan dengan Sunan Kalijaga. Konon, saat menyebarkan agama Islam di wilayah Tulungagung, Sunan Kalijaga pernah menegur beberapa santri yang bermain-main dan memanjat pohon.
Dalam kisah tersebut, Sunan Kalijaga disebut berujar bahwa santri yang seharusnya belajar justru berperilaku seperti kera. Ucapan itu diyakini menjadi kenyataan, sehingga para santri tersebut dikutuk menjadi kera dan menetap di kawasan Ngujang. Meski cerita ini bersifat legenda, kisahnya masih dipercaya sebagian masyarakat hingga kini.
Pesugihan dan Prostitusi, Mitos atau Fakta?
Selain kera, Ngujang juga dikenal dengan isu pesugihan. Dalam kepercayaan tertentu, kera-kera yang ada di sana diyakini sebagai jelmaan para pelaku pesugihan yang telah meninggal dunia. Namun klaim ini kembali dibantah oleh juru kunci yang menegaskan bahwa kera tersebut adalah satwa liar yang dilindungi secara gaib.
Isu lain yang tak kalah kontroversial adalah dugaan praktik prostitusi di sekitar lokasi, terutama pada malam hari. Cerita ini beredar luas dari mulut ke mulut. Beberapa warga mengakui pernah mendengar atau melihat aktivitas mencurigakan, meski kebenarannya sulit dipastikan.
Asal-usul Nama Ngujang
Nama Ngujang sendiri juga memiliki kisah tersendiri. Menurut cerita, sebutan Ngujang berasal dari penggalan kata “mu” dan “jang”. Konon, Sunan Kalijaga pernah mendengar suara kera (kethek) dan suara “jang” yang kemudian menjadi penanda wilayah tersebut agar mudah diingat dan kelak menjadi ramai.
Seiring waktu, kawasan Ngujang berkembang menjadi wilayah penting yang dilintasi jalur utama dan jembatan penghubung, namun tetap menyimpan nuansa mistis yang kuat.
Antara Mitos dan Edukasi
Mitos pesugihan Ngujang Tulungagung hingga kini masih hidup di tengah masyarakat. Namun para tokoh setempat mengimbau agar masyarakat menyikapinya secara bijak. Cerita mistis hendaknya dijadikan bagian dari kearifan lokal, bukan diyakini secara membabi buta.
Ngujang pada dasarnya adalah tempat pemakaman umum dan habitat satwa liar. Menjaga sikap, menghormati lingkungan, serta tidak mudah terprovokasi oleh cerita yang belum tentu kebenarannya menjadi pesan utama yang terus disampaikan kepada pengunjung.
Editor : Natasha Eka Safrina