TULUNGAGUNG - Misteri hajatan gaib Desa Notorejo Tulungagung kembali menyedot perhatian warga. Hamparan sawah luas dengan dua bukit kecil di tengahnya sekilas tampak biasa. Namun, di balik lanskap sederhana itu, masyarakat sekitar meyakini kerap terdengar suara pesta, gamelan, hingga wayangan yang tak pernah terlihat wujudnya.
Cerita tentang misteri hajatan gaib Desa Notorejo Tulungagung sudah lama beredar dari mulut ke mulut. Warga mengaku sering mendengar suara orkes, dangdut, dan pagelaran wayang pada malam hari. Anehnya, ketika sumber suara dicari, tak ada satu pun tanda hajatan digelar.
Lokasi yang dimaksud berada di area persawahan Desa Notorejo, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Menurut kesaksian warga, suara pesta itu justru kembali terdengar ketika orang-orang menjauh dari titik sumbernya.
Suara Gamelan dan Wayang Tanpa Wujud
Beberapa warga mengaku pernah mendengar alunan gamelan dan suara dalang wayang yang begitu jelas. Bahkan, ada yang menyebut terdengar orkes dangdut layaknya pesta pernikahan besar. Namun saat didekati, area tersebut hanya berupa sawah kosong tanpa panggung maupun keramaian.
Fenomena ini disebut-sebut sebagai hajatan gaib yang digelar sosok misterius bernama Mbah Dawe. Dalam cerita turun-temurun, Mbah Dawe dipercaya sebagai tokoh tak kasat mata yang “menggelar pesta” untuk anak-anaknya.
Konon, Mbah Dawe memiliki empat anak, dua laki-laki dan dua perempuan. Hajatan yang terdengar diyakini sebagai pesta pernikahan mereka. Lokasinya disebut berada di sisi utara hingga barat area persawahan, tepat di sekitar dua bukit kecil yang mencolok di tengah hamparan lahan.
Baca Juga: Ramalan Shio Kelinci Naga Ular 2026 Tahun Kuda Api: Siapa Paling Bersinar, Siapa Paling Diuji?
Ritual Malam Jumat dan Tempat Pertemuan Gaib
Warga juga menyebut, setiap malam Jumat Kliwon atau Kamis Kliwon, kawasan tersebut dipercaya menjadi tempat berkumpul makhluk tak kasat mata. Area sawah yang luas diyakini terbagi dalam beberapa titik, termasuk lokasi pertemuan dan tempat penyimpanan barang-barang gaib.
Meski tak terlihat secara fisik, sebagian warga meyakini keberadaan aktivitas tersebut nyata. Mereka memilih tidak mengganggu atau melakukan hal-hal yang dianggap melanggar pantangan.
Larangan Membawa Batu dan Benda dari Lokasi
Selain kisah hajatan gaib, misteri hajatan gaib Desa Notorejo Tulungagung juga dikaitkan dengan sejumlah larangan keras. Warga percaya, siapa pun tidak boleh membawa pulang benda apa pun dari area tersebut, terutama batu-batu besar yang menyerupai meja atau arca.
Di lokasi itu, terdapat batu yang dipercaya berbentuk kerbau tertidur. Sebagian warga menyebutnya sebagai arca yang terpendam. Sawah di sekitar batu tersebut bahkan diyakini sulit ditanami padi.
Cerita lain menyebutkan, barang siapa nekat membawa pulang batu atau benda berharga dari lokasi itu akan mengalami nasib buruk. Ada kisah tentang seseorang yang mengambil benda dari area tersebut lalu meninggal dunia sebelum sempat menikmati hasil penjualannya.
Tak hanya batu, benda lain seperti lumpang, peralatan pertanian, bahkan hasil kebun seperti pisang pun disebut tak boleh diambil berlebihan. Jika melanggar, diyakini akan ada “imbalan” yang harus dibayar.
Sosok Mbah Dawe Masih Jadi Teka-teki
Hingga kini, siapa sebenarnya Mbah Dawe dan pada masa apa ia hidup masih menjadi misteri. Tidak ada catatan sejarah resmi yang menjelaskan sosok tersebut. Namun, dalam tradisi lisan warga Desa Notorejo, namanya terus disebut sebagai tokoh sentral dalam hajatan gaib itu.
Sebagian masyarakat memilih menyikapi cerita ini sebagai bagian dari kearifan lokal dan warisan budaya tutur. Sementara lainnya menganggapnya sekadar mitos yang berkembang karena sugesti dan faktor alam.
Yang jelas, misteri hajatan gaib Desa Notorejo Tulungagung telah menjadi cerita yang melekat kuat di benak warga. Hamparan sawah yang sunyi itu pun menyimpan kisah yang tak pernah benar-benar terjawab—antara suara gamelan tanpa wujud dan pantangan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Editor : Natasha Eka Safrina