TULUNGAGUNG - Jagat media sosial baru-baru ini dikejutkan dengan sebuah fakta tak terduga mengenai Sejarah Rokok Reco Pentung Tulungagung. Pesulap sekaligus ahli tarot ternama, Deni Darko, ternyata merupakan cucu dari Sumiran Karsodiwiryo, pendiri sekaligus pemilik salah satu imperium kretek terbesar di Jawa Timur tersebut.
Kisah mengenai Sejarah Rokok Reco Pentung Tulungagung ini kembali mencuat setelah video penelusuran horor di puing pabriknya viral. Dalam berbagai obrolan daring, Deni Darko akhirnya buka suara mengenai silsilah keluarganya yang selama ini jarang diketahui publik. Ia membenarkan bahwa dirinya adalah keturunan langsung dari dinasti pengusaha rokok yang sempat berjaya di era 80-an hingga 90-an tersebut.
Keterlibatan keluarga Deni Darko dalam Sejarah Rokok Reco Pentung Tulungagung bermula dari kakeknya yang merintis usaha dari nol sejak tahun 1946. "Kalau perusahaan rokoknya masih ada, mungkin saya tidak jadi entertainer. Saya mungkin sedang sibuk mengurus pabrik," ujar Deni Darko sambil mengenang masa kejayaan keluarganya yang sempat menjadi salah satu penyumbang pajak terbesar di daerahnya.
Masa Kejayaan dan Jingle Legendaris yang Melekat
Reco Pentung bukan sekadar merek rokok, melainkan ikon budaya bagi warga Tulungagung. Pabrik ini didirikan pada tahun 1946, bertepatan dengan semangat kemerdekaan Indonesia. Nama "Reco Pentung" sendiri diambil dari simbol Arca (Reco) yang memegang gada (Pentung), sebuah ikon yang sangat dikenal di wilayah Tulungagung.
Pada masa keemasannya di tahun 1980-an hingga 1990-an, Reco Pentung berhasil merajai pasar kretek lokal. Keberhasilan ini tidak lepas dari strategi pemasaran yang unik pada zamannya, termasuk jingle radio berbahasa Jawa yang sangat ikonik. "Rokok Reco Pentung, weton pabrik Tulungagung, tuku rokok ojo bingung, milih rokok Reco Pentung," demikian penggalan lirik yang hingga kini masih dihafal oleh generasi tua di Tulungagung.
Kejayaan tersebut membawa keluarga Sumiran Karsodiwiryo ke puncak ekonomi. Deni Darko menceritakan bahwa ayahnya merupakan sosok di balik rahasia rasa (peracik saus) rokok tersebut. Namun, perubahan regulasi pemerintah yang ketat serta tantangan manajemen membuat pabrik ini harus dinyatakan pailit sekitar tahun 2001-2002.
Klarifikasi Isu Pesugihan Nyi Roro Kidul
Seiring dengan terbengkalainya pabrik besar tersebut, muncul berbagai narasi mistis yang mengaitkan kesuksesan keluarga Deni Darko dengan praktik pesugihan Nyi Roro Kidul. Isu ini diperkuat dengan adanya lukisan besar sang Penguasa Laut Selatan di area pabrik dan keterlibatan sang kakek dalam pengembangan wisata Pantai Popoh.
Menanggapi hal ini, Deni Darko dengan tegas memberikan klarifikasi. Menurutnya, keberadaan atribut-atribut tersebut murni bentuk penghormatan terhadap budaya lokal dan kecintaan kakeknya terhadap seni, bukan karena praktik hitam. "Kakek saya mendirikan tempat meditasi dan memasang lukisan itu untuk menghormati kepercayaan desa nelayan setempat agar bisa berbaur dengan warga," jelasnya.
Deni menegaskan bahwa kakeknya adalah seorang muslim yang taat dan pernah menunaikan ibadah haji. Kesuksesan Reco Pentung murni hasil kerja keras dan strategi bisnis yang visioner pada masanya. Ia menekankan bahwa tidak ada hubungan antara kekayaan keluarganya dengan kekuatan magis atau ritual pesugihan tertentu.
Baca Juga: BNN Bongkar Bahaya Vape Jadi Pintu Masuk Narkoba, 23 Persen Cairan Positif Zat Terlarang
Harapan Membangkitkan Legacy Keluarga
Meskipun saat ini pabrik tersebut tinggal puing-puing yang dianggap angker oleh sebagian konten kreator horor, Deni Darko memiliki keinginan tersembunyi untuk membangkitkan kembali warisan keluarganya. Ia mengungkapkan bahwa sang ayah sempat berpesan agar cita rasa khas Reco Pentung tidak hilang ditelan zaman.
Walaupun Deni sendiri tidak merokok, ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk melestarikan nilai sejarah dan budaya yang terkandung dalam merek tersebut. Ia berharap suatu saat nanti ada investor yang tertarik untuk berkolaborasi menghidupkan kembali aroma khas kretek Tulungagung ini, meski mungkin dengan format atau brand yang sedikit berbeda.
"Ini adalah sebuah legacy budaya yang sangat sayang kalau tidak dilanjutkan. Bukan soal mengejar kekayaan, tapi soal menjaga sejarah yang pernah menghidupi ribuan orang di Tulungagung," pungkas Deni.
Editor : Natasha Eka Safrina