TULUNGAGUNG – Di balik keindahan deburan ombak Samudra Hindia, Pantai Popoh menyimpan sebuah mahakarya arsitektur yang sarat akan nilai spiritual dan historis. Bangunan tersebut adalah Rejo Sewu. Menelisik Sejarah Bangunan Rejo Sewu Pantai Popoh, kita akan dibawa kembali pada era kejayaan Sumiran Karsodiwiryo, sang pendiri pabrik rokok legendaris Reco Pentung yang membangun tempat ini bukan sekadar untuk wisata, melainkan sebagai bentuk pelestarian budaya Jawa.
Rejo Sewu berdiri di atas lahan yang dulunya merupakan kawasan hutan bernama Gendon. Konon, menurut penuturan warga setempat, kawasan ini ditemukan oleh Sumiran pada tahun 1990-an. Pembangunan fisik yang dimulai sekitar tahun 1991 hingga 1993 tersebut melibatkan masyarakat pribumi secara luas. Dalam kurun waktu tiga tahun, bangunan ini bertransformasi menjadi padepokan megah yang dihiasi ribuan relief bernuansa pewayangan dan sejarah nusantara.
Keunikan dari Sejarah Bangunan Rejo Sewu Pantai Popoh terletak pada prosesi peresmiannya yang tidak biasa. Pada tahun 1995, saat bangunan ini dinyatakan rampung, Sumiran Karsodiwiryo menghadirkan sekitar 1.000 paranormal dari berbagai daerah. Kehadiran para praktisi spiritual ini dimaksudkan untuk memberikan doa keselamatan serta menjaga harmoni antara bangunan tersebut dengan alam sekitarnya, menjadikannya salah satu situs paling sakral di pesisir selatan Tulungagung.
Filosofi Nama dan Relief Budaya yang Tak Ternilai
Secara harfiah, nama "Rejo Sewu" berasal dari kata Rejo yang berarti ramai atau makmur, dan Sewu yang berarti seribu. Nama ini merepresentasikan ribuan relief yang terpahat di dinding-dinding bangunan. Relief-relief tersebut menggambarkan kisah-kisah epik yang sangat mendetail, bahkan disebut-sebut memiliki tingkat kerumitan yang hampir menyamai pahatan candi kuno.
"Tinggi reliefnya bervariasi, mulai dari 9 centimeter hingga 9 meter. Total ada sekitar 890 relief yang mengelilingi bangunan ini," ungkap Imam Nurhadi, salah satu orang kepercayaan keluarga besar Reco Pentung yang menjaga kawasan tersebut. Baginya, Rejo Sewu adalah bukti kecintaan Sumiran terhadap budaya Jawa yang tidak ingin hilang ditelan zaman.
Salah satu daya tarik utama di dalam kompleks ini adalah keberadaan Singgasana Kanjeng Ratu Kidul. Tempat ini dihiasi dengan relief dan lukisan Sang Penguasa Laut Selatan. Banyak pengunjung yang datang ke sini bukan hanya untuk berwisata, tetapi juga untuk melakukan prosesi doa atau nyadran sebagai bentuk permohonan keberhasilan dalam usaha atau hajat hidup lainnya.
Misteri Mata Air Suci dan Makam Keluarga
Tak jauh dari bangunan utama, terdapat sebuah sumber mata air yang dikeramatkan. Konon, air tersebut dipercaya dapat membuat awet muda dan membawa keberkahan bagi siapa saja yang menggunakannya untuk membasuh muka. Aliran air ini berasal dari sumber alami di pegunungan sekitar yang bermuara tepat di dalam area Rejo Sewu, menambah kesan magis yang kental.
Selain sebagai tempat meditasi dan budaya, kawasan ini juga berfungsi sebagai area pemakaman keluarga khusus bagi dinasti Sumiran Karsodiwiryo. Di sana, sang pendiri pabrik rokok Reco Pentung bersama istri dan beberapa anggota keluarga lainnya dimakamkan. Lokasi makam yang tenang dan eksklusif ini menjadi pengingat akan dedikasi Sumiran dalam membangun ekonomi dan pariwisata di Tulungagung semasa hidupnya.
Meski sempat mengalami pasang surut akibat pandemi dan perubahan manajemen pasca-pailitnya pabrik rokok Reco Pentung, Rejo Sewu tetap tegak berdiri. Bangunan ini kini menjadi saksi bisu perjalanan seorang anak buruh yang berhasil membangun imperium bisnis sekaligus menjaga marwah budaya leluhurnya di tepian pantai selatan.
Warisan Budaya yang Tetap Hidup
Rejo Sewu hingga kini masih menjadi magnet bagi wisatawan lokal maupun mancanegara yang tertarik pada sejarah dan spiritualitas. Di setiap sudutnya, pengunjung bisa melihat dokumentasi foto-foto lama yang menceritakan prosesi adat seperti larung sesaji yang pernah dilaksanakan dengan sangat meriah.
Bagi warga Tulungagung, Rejo Sewu adalah simbol kejayaan lokal. Ia bukan sekadar bangunan beton, melainkan napas sejarah yang terus berdenyut, mengingatkan setiap orang bahwa kerja keras yang dibalut dengan rasa hormat pada tradisi akan menghasilkan warisan yang tak akan pernah mati.
Editor : Natasha Eka Safrina