Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Menyatukan Diri dengan Ramadan

Amalia Rizky Indah Permadani • Senin, 23 Februari 2026 | 15:40 WIB

SUBADIANTO  Ketua DPD PKS Trenggalek,  Wakil Ketua DPRD Trenggalek
SUBADIANTO Ketua DPD PKS Trenggalek, Wakil Ketua DPRD Trenggalek

KOTA, Radar Trenggalek - Ramadan adalah musim bagi jiwa untuk peningkatan spiritual, namun perjalanan itu sering kali terasa berat. Maka, langkah pertama yang paling jujur adalah mengenali kelemahan diri dalam beramal. Kita harus berani mengakui: mengapa ibadah kita terkadang terasa hambar, tangan ini begitu berat untuk memberi.

Oleh karenanya, kita dituntut untuk mengenali gangguan-gangguan penghalang amal yang sering kali menyamar dalam bentuk kesibukan dunia yang semu. Lebih dari itu, saat lelah mulai menyapa dalam ibadah, inilah momen krusial untuk mengenali diri di saat-saat berat beramal.

Namun, musuh yang paling berbahaya bukanlah letihnya raga, melainkan apa yang tersembunyi di balik dada.

Kita harus jeli mengenali penyakit-penyakit hati perusak amal; seperti riya yang membakar pahala secara senyap, atau ujub yang membuat kita merasa lebih suci dari sesama. Penyakit ini adalah rayap yang meruntuhkan bangunan iman dari dalam.

Kesadaran ini tidak boleh berakhir pada keluh kesah. Jiwa yang rindu akan keridaan-Nya akan bergegas memperbaiki diri secepatnya, sebelum waktu yang dipinjamkan kembali ditarik oleh Sang Pemilik.

Kita dituntut untuk sigap mengatasi gangguan-gangguan yang mengaburkan fokus, dan berjiwa ksatria dalam melawan segala hambatan-hambatan beramal yang merintangi jalan menuju pintu surga.

Akhirnya, Ramadan menjadi apotek ruhani. Kita gunakan setiap detiknya untuk menterapi penyakit-penyakit hati dengan dosis istighfar yang tak terputus dan tetesan air mata taubat. Sebab, amal yang diterima bukan karena megahnya rupa, melainkan karena bersihnya hati.

Ramadan bukan sekadar tamu tahunan yang singgah di kalender kita; ia adalah kesempatan langka yang belum tentu menyapa kembali. Maka, di ambang pintu bulan suci ini, saatnya kita bertekad kuat untuk mujahadah diri.

Kita tidak sedang bertarung melawan orang lain, melainkan sedang berjihad menundukkan ego dan nafsu yang seringkali menjauhkan kita dari cahaya-Nya.

Agar langkah ini tak kehilangan arah, kita perlu menyelami kembali makna di balik setiap sujud dan lapar kita. Mari mengkaji fadhilah Ramadan dan keagungan beramal di dalamnya.

Biarkan ilmu menjadi pelita yang membakar semangat, sehingga setiap rakaat tarawih dan setiap ayat yang dibaca bukan lagi sekadar rutinitas, melainkan kerinduan yang tertunaikan

Membaca kisah perjuangan ulama salaf dalam menggapai Ramadan akan menyadarkan kita betapa jauhnya jarak kualitas iman kita.

Mereka menyambut bulan ini dengan air mata kerinduan dan menghidupkan malam-malamnya seolah-olah dunia telah runtuh di luar sana.

Jika mereka yang sudah dijamin kesalehannya begitu bersungguh-sungguh, lantas apa alasan kita untuk bermalas-malasan.

Akhirnya, kunci dari segala kekhusyukan adalah sebuah kesadaran yang tajam: kita jadikan Ramadan ini sebagai Ramadan terakhir dalam hidup kita. (mall)

Editor : Adinda Putri Sefiana
#ramadan #Subadianto #bulan suci ramadan #umat muslim #trenggalek