Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Pemenuhan Gizi Tetap Penting Selama Ramadan

Fatra Aditya • Rabu, 25 Februari 2026 | 15:27 WIB

Caption: Ilustrasi penerapan gizi seimbang saat Ramadan, di mana masyarakat diimbau tetap memenuhi kebutuhan nutrisi meski jadwal makan berubah antara berbuka hingga sahur.
Caption: Ilustrasi penerapan gizi seimbang saat Ramadan, di mana masyarakat diimbau tetap memenuhi kebutuhan nutrisi meski jadwal makan berubah antara berbuka hingga sahur.

KOTA, Radar Trenggalek - Memasuki bulan suci Ramadan, pola makan masyarakat Indonesia otomatis berubah karena adanya pembatasan waktu makan dan minum dalam sehari. Meski demikian, prinsip gizi seimbang tetap harus diterapkan supaya tubuh tetap sehat dan bugar selama menjalankan ibadah puasa.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkesdalduk KB) Trenggalek Sulastri, melalui admin kesehatan masyarakat ahli muda Eni Septiani menegaskan, puasa tidak mengubah kebutuhan zat gizi harian seseorang.

“Prinsip gizi seimbang tetap sama, hanya jadwal makannya yang berubah. Kalau biasanya tiga kali sehari, saat puasa dirapel antara berbuka sampai sahur,” jelasnya.

Dia menyampaikan bahwa tantangan utama saat puasa justru bukan pada menahan lapar, tetapi dalam menjaga kecukupan cairan tubuh supaya tidak terdehidrasi.

Oleh karena itu, pengaturan konsumsi air menjadi hal penting agar tidak terjadi dehidrasi selama menjalankan ibadah puasa.

Eni menyarankan untuk tetap mengonsumsi air putih delapan gelas per hari. Delapan gelas tersebut dapat diatur sesuai dengan keadaan di bulan puasa, misalnya dua gelas saat sahur, kemudain 2 gelas saat berbuka, dan 4 gelas di antara buka hingga sahur berikutnya.

“Upayakan minum delapan gelas per hari. Bisa dibagi 2 gelas saat berbuka, 2 gelas saat sahur, dan sisanya di malam hari di sela waktu setelah makan,” terangnya.

Selain itu, dia menganjurkan masyarakat tidak hanya mengandalkan karbohidrat sederhana saat berbuka maupun sahur.

Kombinasi protein dan serat dinilai membantu rasa kenyang bertahan lebih lama. Eni menyebut kebiasaan masyarakat yang tidak bisa dihilangkan adalah konsumsi nasi. Padahal dengan mengonsumsi nasi justru akan meningkatkan rasa lapar karena adanya lonjakan gula darah.

“Kalau hanya makan nasi dalam jumlah banyak biasanya cepat lapar karena lonjakan gula darah. Sebaiknya tetap seimbang. Ada protein, sayur, dan buah agar kenyang lebih lama dan energi lebih stabil,” ujarnya.

Dia menambahkan, pemilihan menu yang tepat selama Ramadan akan membantu menjaga daya tahan tubuh sehingga aktivitas tetap berjalan normal meskipun sedang berpuasa. (tra/c1/din)

Editor : Adinda Putri Sefiana
#kebutuhan zat gizi #bulan suci ramadan #Dinkesdalduk KB #Eni Septiani