JAKARTA - Hujan deras yang mengguyur selama tiga hari terakhir memicu banjir Bali di sejumlah kawasan wisata dan permukiman warga. Genangan air tak hanya merendam rumah penduduk, tetapi juga hotel dan vila yang dipadati wisatawan lokal maupun turis asing.
Dalam peristiwa banjir Bali kali ini, ketinggian air dilaporkan mencapai 1 hingga 1,2 meter di beberapa titik.
Kondisi tersebut memaksa aparat gabungan bergerak cepat melakukan evakuasi demi keselamatan wisatawan yang terjebak di penginapan.
Baca Juga: Tebing 8 Meter Longsor , Usai Hujan Deras Tim Bersihkan Material
Tim SSAT Brimob Polda Bali terlihat berjibaku mengevakuasi tamu Hotel Risata pada Selasa pagi.
Para wisatawan asing dievakuasi menggunakan perahu karet menuju lokasi yang lebih aman karena akses jalan tak bisa dilalui kendaraan.
Turis Dievakuasi dari Hotel dan Vila
Salah satu titik terparah terdampak banjir Bali berada di Jalan Pantai Jerman, Kuta. Di kawasan ini, air menggenangi jalan hingga setinggi sekitar 1,2 meter.
Arus cukup deras membuat petugas harus ekstra hati-hati saat mengevakuasi tamu hotel. Tak hanya di Pantai Jerman, evakuasi juga berlangsung di kawasan wisata Legian dan Kuta.
Perahu karet milik tim SAR gabungan hilir mudik mengangkut wisatawan keluar dari hotel dan vila yang terendam. Beberapa turis asing tampak membawa koper dan tas besar saat dievakuasi.
Baca Juga: Kerbau Bule Tercebur Septic Tank, Evakuasi Berlangsung Dramatis
Mereka memilih pindah penginapan, bahkan ada yang memutuskan pulang lebih awal ke negaranya karena khawatir banjir kembali meninggi.
Warga lokal pun tak luput dari dampak. Sejumlah penduduk memilih mengungsi ke tempat yang lebih aman karena debit air terus meningkat akibat hujan deras yang mengguyur tanpa henti selama tiga hari.
Sanur dan Denpasar Ikut Terdampak
Kondisi serupa terjadi di kawasan Bumi Ayu, Sanur, Denpasar. Wilayah yang dikenal sebagai daerah cekungan ini kembali terendam banjir.
Sejumlah wisatawan asing dievakuasi dari penginapan mereka dengan bantuan tim SAR gabungan.
Petugas bahkan mengoperasikan alat penyedot air untuk mempercepat proses surutnya genangan. Upaya ini dilakukan karena air sulit keluar secara alami akibat kontur wilayah yang lebih rendah dari sekitarnya.
Baca Juga: Satpol PP Trenggalek Akan Gelar Patroli Gabungan, Sasar Kos-Kosan dan Kafe Selama Ramadan
“Karena di sini memang daerah cekungan, makanya kita upayakan dengan melakukan penyedotan. Kalau tanpa penyedotan, air tidak bisa dikeluarkan dari Bumi Ayu,” ujar salah satu petugas di lokasi.
Hingga Selasa siang, BPBD Kota Denpasar mencatat sedikitnya 33 titik terdampak banjir. Titik-titik tersebut tersebar di sejumlah wilayah Denpasar dan sekitarnya.
Penyebab Banjir: Hujan Deras dan Drainase Buruk
Selain curah hujan tinggi, buruknya sistem drainase diduga menjadi faktor utama meluasnya genangan.
Air hujan yang tak tertampung dengan baik menyebabkan permukiman dan akses jalan menuju vila serta hotel terendam hingga lebih dari satu meter.
Tak hanya itu, meluapnya sejumlah sungai di Bali juga disebut berkontribusi terhadap parahnya banjir kali ini.
Kombinasi hujan intensitas tinggi, saluran air tersumbat, serta kondisi geografis daerah cekungan membuat air sulit surut dengan cepat.
Baca Juga: Menyatukan Diri dengan Ramadan
Kondisi ini menjadi perhatian serius, mengingat Bali merupakan destinasi wisata internasional.
Gangguan akibat banjir tak hanya berdampak pada aktivitas warga, tetapi juga sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah.
Sejumlah wisatawan mengaku khawatir dengan situasi tersebut.
Mereka berharap pemerintah daerah segera melakukan perbaikan sistem drainase dan penanganan sungai agar kejadian serupa tidak terus berulang, terutama saat musim hujan.
Sementara itu, aparat gabungan masih bersiaga di sejumlah titik rawan. Proses evakuasi dan penyedotan air terus dilakukan guna memastikan kondisi kembali normal secepat mungkin.
Peristiwa banjir Bali ini menjadi pengingat pentingnya mitigasi bencana dan perbaikan infrastruktur lingkungan. Terlebih di kawasan wisata yang setiap harinya dipadati turis domestik maupun mancanegara.(*)
Editor : Adinda Putri Sefiana