KOTA, Radar Trenggalek – Progres pengerjaan proyek Sekolah Rakyat (SR) di Bumi Menak Sopal kurang gereget. Pasalnya, hingga akhir Maret kemarin, prosesnya baru mencapai sekitar 9 sampai 13 persen.
Tak ayal, dengan target penyelesaian akhir Juni ini, Satuan Kerja (Satker) Prasarana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) wajib menyiapkan langkah percepatan.
Perwakilan Satker Prasarana Strategis Kementerian PUPR, Yuni Ahmad Ervianto, mengakui capaian tersebut masih jauh dari target sehingga perlu dilakukan akselerasi di berbagai lini pekerjaan.
“Dengan progres sekitar 9 persen pada pertengahan Maret lalu, dan data ini sudah mencapai sekitar 13 persen serta deadline di akhir Juni, tentu kami akan melakukan percepatan-percepatan,” ujarnya.
Baca Juga: Delapan Kepala OPD Berganti Posisi Bupati Evaluasi Kinerja Pejabat Pelayanan Bisa Lebih Progresif
Dia menjelaskan, salah satu kendala utama yang dihadapi di lapangan adalah kondisi tanah yang lembek sehingga menyulitkan proses pemancangan pondasi.
“Memang kemarin ada kendala kondisi tanah yang lembek. Saat pemancangan fondasi sempat tembus ke bawah sehingga perlu beberapa kali penyesuaian,” jelasnya.
Menurut dia, persoalan tersebut telah dibahas dalam rapat koordinasi dan solusi teknis sudah ditemukan. Langkah selanjutnya adalah memastikan percepatan tetap berjalan tanpa mengurangi kualitas konstruksi.
Untuk mengejar ketertinggalan, dia akan menambah tenaga kerja dan peralatan di lokasi proyek. Selain itu, sistem kerja juga akan diubah menjadi lebih intensif. “Langkah yang paling memungkinkan adalah penambahan pekerja dan alat kerja. Kemudian juga penambahan sif,” tegasnya.
Baca Juga: Komisi I DPRD Trenggalek Komitmen Kawal Tahapan Pilkades 2027, Tawarkan Solusi Calon Tunggal
Bahkan, setelah Lebaran, pekerjaan direncanakan akan dilakukan dalam tiga dif atau hampir 24 jam penuh. Namun, penerapan skema tersebut masih akan dikoordinasikan dengan pemerintah daerah. “Nanti setelah Lebaran kemungkinan ada tiga dif. Tapi tetap kami koordinasikan dengan pemda apakah diperbolehkan,” tandasnya.
Di sisi lain, pihak satker juga menanggapi keluhan masyarakat yang disampaikan melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Trenggalek, terutama terkait dampak debu dan lalu lintas kendaraan proyek yang cukup padat.
Yuni mengakui tingginya volume kendaraan proyek memang berpotensi menimbulkan gangguan lingkungan, meski sejumlah upaya pengendalian telah dilakukan.
“Penyemprotan jalan dan pembersihan ban truk sudah dilakukan pagi dan sore. Tapi karena volumenya banyak, dampaknya masih terasa,” ungkapnya.
Baca Juga: Proyek Senilai Rp 1,9 T Mandek, Pemkab Putus Kontrak PLTSa dan Progres dari Investor Minim
Dia memastikan akan meningkatkan intensitas penanganan dampak lingkungan agar aktivitas proyek tetap berjalan tanpa mengganggu masyarakat sekitar.
Meski progres saat ini masih dibilang minim, dia optimistis target penyelesaian dapat dikejar dengan berbagai langkah percepatan yang telah disiapkan.
“Kami yakin dengan tambahan tenaga kerja, alat, serta sistem kerja yang lebih intensif, proyek pembangunan SR ini bisa rampung sesuai target sekaligus tetap memperhatikan aspek keselamatan dan kenyamanan lingkungan,“ jelasnya. (jaz/c1/din)
Editor : Isna Dzikirianti