Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Jambangan Kuno Muncul di BPR Jwalita , Diduga Peninggalan Era Kadhiri

Zaki Jazai • Jumat, 10 April 2026 | 12:56 WIB
DIINVENTARISASI: Pegawai Disparbud Trenggalek bersama penggiat cagar budaya meninjau jambangan kuno. ( ZAKI JAZAI/RADAR TRENGGALEK )
DIINVENTARISASI: Pegawai Disparbud Trenggalek bersama penggiat cagar budaya meninjau jambangan kuno. ( ZAKI JAZAI/RADAR TRENGGALEK )

KOTA, Radar Trenggalek – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Trenggalek bersama komunitas sejarah melakukan pendataan dan identifikasi terhadap benda yang diduga sebagai cagar budaya, Rabu (8/4). Temuan tersebut berupa jambangan air berbahan batu andesit yang ditemukan di area samping Kantor BPR Jwalita Trenggalek.

Kegiatan ini melibatkan komunitas Pegiat Sejarah Trenggalek (PESAT) dan Lingkar Studi Sejarah Trenggalek sebagai bagian dari upaya pengungkapan potensi sejarah daerah.

Berdasarkan kajian awal, jambangan tersebut memiliki karakteristik yang identik dengan benda-benda yang ditemukan di kompleks peribadatan Hindu masa klasik.

“Secara tipologi, jambangan berbahan batu andesit seperti ini lazim dijumpai pada lingkungan peribadatan Hindu masa klasik. Ini mengindikasikan adanya aktivitas religius pada masa lampau di kawasan tersebut,” ujar Pamong Budaya Disparbud Trenggalek Heru Dwi Susanto, Kamis (9/4).

Baca Juga: Pisah Sambut Kepala SMAN 1 Trenggalek, Optimisme Baru untuk Peningkatan Prestasi

Yang menarik, pada permukaan benda ditemukan inskripsi berupa angka tahun 1070 Saka atau setara dengan 1168 Masehi. Inskripsi tersebut menggunakan aksara Jawa Kuno dengan bentuk huruf timbul bergaya kuadrat.

Menurut Heru, keberadaan inskripsi tersebut menjadi petunjuk penting dalam menentukan periodisasi benda. “Angka tahun yang tertera menunjukkan 1070 Saka atau 1168 Masehi. Ini memperkuat dugaan bahwa benda tersebut berasal dari periode klasik,” jelasnya.

Dia menambahkan, jika dikaitkan dengan temuan sejarah di wilayah lain, tahun tersebut beririsan dengan masa pemerintahan Raja Kadhiri, Sri Sarweswara.

 Hal ini membuka peluang adanya keterkaitan historis antara wilayah Trenggalek dan dinamika peradaban pada masa itu. “Kalau dikaitkan dengan prasasti di Kediri, ini masuk masa Sri Sarweswara. Artinya ada kemungkinan hubungan historis yang perlu dikaji lebih lanjut,” tandasnya.

Baca Juga: Kini Kunjungan Perpustakaan Kembali Normal Usai Momen Lebaran

Heru menegaskan, proses identifikasi ini masih merupakan tahap awal. Disparbud akan melanjutkan kajian secara lebih mendalam, termasuk kemungkinan penetapan sebagai benda cagar budaya. “Ini baru langkah awal. Kami masih akan melakukan kajian lanjutan untuk memastikan status dan nilai penting benda tersebut,” tegasnya.

Dia juga berharap temuan ini dapat menjadi pintu masuk untuk menggali potensi sejarah lain di Trenggalek yang selama ini belum terungkap.

Dengan adanya temuan ini, disparbud mengajak masyarakat untuk turut berperan aktif dalam menjaga dan melaporkan potensi benda bersejarah di lingkungan masing-masing sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya daerah.

“Harapannya, temuan ini bisa memperkaya khazanah budaya sekaligus memperkuat identitas sejarah Trenggalek,” pungkasnya. (jaz/c1/din)

Editor : Isna Dzikirianti
#Dinas Pariwisata dan Kebudayaan #Kantor BPR Jwalita Trenggalek. #Pegiat Sejarah Trenggalek #Disparbud Trenggalek Heru Dwi Susanto #kabupaten trenggalek