KOTA, Radar Trenggalek - Pengelolaan sampah di Kabupaten Trenggalek menghadapi tantangan serius akibat keterbatasan tenaga kerja, ditambah dengan minimnya anggaran untuk operasional. Hal tersebut diungkapkan oleh Penata Pengelola Lingkungan Ahli Muda Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Trenggalek, Imam Maulani.
Di menyebut, jumlah petugas kini justru berkurang dari sebelumnya di tengah meningkatnya volume sampah di masyarakat.
Banyak tenaga kebersihan yang pensiun dan tidak dapat digantikan karena keterbatasan kebijakan dan anggaran. Kondisi tersebut tentunya membuat beban kerja petugas yang tersisa semakin berat.
“Tenaga kita berkurang karena banyak yang pensiun. Sementara belum ada penambahan,” ujarnya.
Di sisi lain, anggaran yang tersedia dinilai belum mencukupi untuk menunjang kebutuhan operasional secara menyeluruh.
Imam menyebut, sebagian besar anggaran hanya digunakan untuk bahan bakar dan perawatan kendaraan.
Tanpa adanya alokasi untuk pengembangan fasilitas, termasuk tempat pengolahan sampah sementara (TPS) yang di beberapa tempat sudah mengalami kerusakan. “Untuk operasional saja sudah berat, apalagi untuk pengadaan baru,” katanya.
Kondisi tersebut diperparah dengan meningkatnya jumlah sampah akibat pertumbuhan aktivitas masyarakat, termasuk dari sektor UMKM.
Penggunaan kemasan sekali pakai yang sulit didaur ulang menjadi salah satu faktor penyumbang utama.
Menurut Imam, upaya pengurangan sampah dari hulu masih belum optimal. Program pemilahan sampah di masyarakat dinilai sulit diterapkan karena minimnya nilai ekonomi dari hasil pemilahan. “Kalau tidak ada nilai jual, masyarakat juga enggan memilah,” jelasnya.
Dia menilai diperlukan kebijakan yang lebih tegas dari pemerintah, terutama dalam membatasi penggunaan kemasan yang tidak ramah lingkungan.
Selain itu, dukungan teknologi pengolahan sampah juga dinilai sangat penting. “Kalau hanya mengandalkan imbauan tanpa solusi, sulit untuk mengurangi sampah,” pungkasnya. (tra/c1/din)
Editor : Adinda Putri Sefiana