Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Tebing KM 16 Belum Stabil , BBPJN Tunggu Surat dari Pemkab Kini Masih Gunakan Buka Tutup Jalur

Zaki Jazai • Senin, 20 April 2026 | 14:53 WIB
MASIH LABIL: Kondisi KM 16 jalur Trenggalek-Ponorogo pasca jatuhnya bebatuan besar dan kini sesekali dilakukan buka tutup jalur. (ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)
MASIH LABIL: Kondisi KM 16 jalur Trenggalek-Ponorogo pasca jatuhnya bebatuan besar dan kini sesekali dilakukan buka tutup jalur. (ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

TUGU, Radar Trenggalek – Kondisi tebing di jalur Trenggalek Ponorogo kilometer (KM) 16 masih dinilai belum stabil pascakejadian runtuhan batu yang menimpa kendaraan, Kamis (16/4). Karena itu, Balai Besar Pelaksa Jalan Nasional (BBPJN) bersama instansi terkait kini memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah guna mendorong penanganan permanen di lokasi rawan tersebut.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.3 Provinsi Jawa Timur, Endhy Aktony mengatakan, saat ini fokus penanganan masih pada pengecekan kondisi tebing bagian atas yang berpotensi longsor susulan.

“Dari tim Basarnas mau memastikan dulu untuk daerah atas itu, apakah masih bisa dilewati atau tidak,” ujarnya.

Menurut dia, hasil asesmen tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan langkah lanjutan, baik penanganan darurat maupun permanen. Dia juga telah melaporkan kondisi terkini kepada pimpinan sebagai bagian dari tindak lanjut awal.

“Untuk penanganan pertama kemarin sudah kami laporkan ke pimpinan, baik untuk penanganan sementara maupun permanennya,” jelasnya.

Selain itu, koordinasi lintas sektor terus diperkuat. BBWS bersama pemerintah kabupaten (pemkab) tengah menyiapkan langkah administratif berupa pengiriman surat resmi guna mendukung percepatan penanganan permanen di lokasi.

“Dari pihak pemkab juga akan berkirim surat untuk mendukung penanganan ini,” jelasnya.

Endhy menegaskan, usulan penanganan sebenarnya sudah diajukan sejak awal kejadian longsor pertama sekitar satu bulan lalu.

Namun, dia masih terus mendorong percepatan realisasi sambil menunggu hasil pengecekan lapangan dari tim gabungan. “Saya tadi sempat berkoordinasi untuk mendorong usulan yang sudah kita ajukan sejak awal kejadian,” katanya.

Dia juga mengingatkan bahwa kondisi tebing di KM 16 tergolong labil dan berpotensi membahayakan pengguna jalan.

Longsor bisa terjadi sewaktu-waktu, bahkan tanpa dipicu hujan. “Karena kita tahu kondisi di lapangan, saat hujan bisa longsor, bahkan tidak hujan pun bisa terjadi longsor,” ungkapnya.

Saat ini, keputusan pembukaan jalur masih menunggu hasil final dari asesmen tim gabungan. Kepastian keamanan jalur akan ditentukan berdasarkan kondisi tebing bagian atas yang masih dalam pengawasan ketat.

Kondisi ini menegaskan bahwa penanganan permanen menjadi kebutuhan mendesak. Tidak hanya untuk membuka akses jalan, tetapi juga menjamin keselamatan pengguna jalur Trenggalek–Ponorogo dalam jangka panjang.

“Tim masih memastikan apakah di atas itu sudah aman dan bisa dilewati kendaraan atau belum. Makanya, pada pada Jumat (17/4), beberapa kali dilakukan buka tutup jalur,” pungkasnya. (jaz/c1/din)

Editor : Adinda Putri Sefiana
#jalur Trenggalek Ponorogo #KM 16 #Endhy Aktony #Provinsi Jawa Timur