KOTA, Radar Trenggalek – Kembalinya Car Free Day (CFD) di Bumi Menak Soal mendapat respons luar biasa dari masyarakat. Antusiasme tinggi ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah kabupaten (pemkab) perlu menjaga konsistensi pelaksanaan CFD agar manfaatnya terus dirasakan, terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) .
Buktinya pada pagelaran hari kedua, sejak Minggu pagi (12/4), ribuan warga memadati sepanjang Jalan Panglima Sudirman. Aktivitas olahraga, jalan santai, hingga berburu kuliner menjadi pemandangan yang menghidupkan kembali ruang publik setelah sempat vakum beberapa tahun.
Hal tersebut berarti bahwa CFD bukan hanya soal ruang bebas kendaraan, tetapi juga menjadi sarana penggerak ekonomi masyarakat. “Kami melanjutkan semangat CFD terdahulu dengan memperluas area.
Tujuannya selain mengurangi emisi, juga mendorong pertumbuhan ekonomi bagi pelaku UMKM,” ujar Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan (Diskomidag) Trenggalek, Saniran.
Baca Juga: Efisiensi 20 Persen Jadi Syarat Utama, Pemkab Masih Evaluasi WFH
Sebanyak sekitar 240 pelaku UMKM terlibat dalam pelaksanaan CFD kali ini. Mereka menjadi magnet utama yang menarik pengunjung sekaligus menggerakkan perputaran ekonomi sejak pagi hari.
Bahkan, banyak pedagang mengaku dagangannya ludes dalam waktu singkat. Hal ini menjadi indikator kuat bahwa CFD memiliki potensi besar sebagai “mesin ekonomi pagi” di Trenggalek.
“Saya sempat berbincang dengan pedagang, ada yang dagangannya habis sebelum pukul 07.00. Ini menunjukkan daya beli masyarakat cukup tinggi,” tambah Saniran.
Saniran menyebut, diskomidag dan lintas sektor akan melakukan evaluasi agar kedepan lebih banyak pelaku usaha bisa terakumulasi.
“Hari ini sekitar 240 UMKM, tapi yang mendaftar jauh lebih banyak. Ini akan kami evaluasi,” jelasnya.
Pemkab juga mendorong agar ke depan pengelolaan CFD dapat melibatkan paguyuban UMKM secara mandiri, dengan pendampingan dari pemerintah.
Baca Juga: Belajar dan Berani Tekuni Bisnis
Dengan tingginya antusiasme masyarakat dan dampak ekonomi yang nyata, konsistensi pelaksanaan CFD menjadi kunci utama.
Di sisi lain, tingginya minat pelaku UMKM juga menjadi tantangan. Jumlah pendaftar disebut jauh melebihi kapasitas yang tersedia saat ini.
“Pastinya hal ini jika dijalankan secara berkelanjutan, tidak hanya menjadi ruang olahraga, tetapi juga pusat pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat Trenggalek,“ jelasnya.
Sementara itu, salah satu pelaku UMKM, Mungki, mengaku merasakan langsung lonjakan pembeli sejak CFD kembali digelar.
“Tadi saya bawa berbagai menu, hampir semuanya habis dalam waktu singkat. Pembelinya ramai sekali,” ungkapnya.
Melihat capaian tersebut, pelaku UMKM berharap CFD tidak hanya digelar sesekali, tetapi menjadi agenda rutin yang konsisten.
“Semoga CFD terus ada dan semakin ramai, supaya UMKM seperti kami punya ruang berkembang,” ujarnya. (jaz/din)