PEREMPUAN seringkali tidak hadir dengan cara yang gaduh. Ia tumbuh pelan, seperti waktu yang tidak benar-benar kita sadari perubahannya, namun diam-diam membentuk banyak fenomena.
Ada yang belajar untuk kuat sejak awal, ada pula yang dipaksa memahami hidup lebih cepat dari yang seharusnya. Di antara fenomena itu, perempuan selalu menemukan cara untuk tetap berdiri dan berdikari meski dunia tidak memberi ruang yang utuh.
Barangkali sejak dulu menjadi perempuan memang tidak pernah benar-benar sederhana. Ada batas yang pernah begitu nyata, ada suara yang sempat ragu untuk disampaikan, bahkan ada mimpi yang dulu harus ditunda karena keadaan. Kemudian, pada suatu masa ada yang memilih untuk tidak lagi sekadar menerima.
Dia menulis, dia menyampaikan pemikiran kritis dan harapan untuk kemajuan perempuan, dia juga mempertanyakan eksistensi perempuan. Dari situlah sesuatu yang kecil mulai bergerak pelan tapi pasti. Dialah Kartini, sosok perempuan visioner sepanjang zaman yang menginspirasi perempuan di negeri ini.
Momen Hari Kartini ini menjadi pengingat bahwa apa yang kita - perempuan Indonesia- rasakan dan jalani saat ini pernah diperjuangkan dengan keberanian yang tidak selalu terlihat.
Baca Juga: Belajar dan Berani Tekuni Bisnis
Hari Kartini bukan sekadar peringatan yang datang setiap tahun lalu berlalu begitu saja, ia lebih menyerupai jejak-jejak panjang yang pernah ditorehkan dengan sunyi tetapi meninggalkan gema yang tak habis oleh waktu.
Oleh karena itu, memaknai Hati Kartini bukan hanya tentang mengenang, tetapi tentang menghidupkan kembali kesadaran, bahwa perempuan memiliki ruang tumbuh untuk berdaya, bersuara, berkarya, berinovasi untuk menjadi utuh sebagai diri sendiri dan mampu memperkuat representasinya sebagai sosok yang mandiri.
Di era digital ini peringatan Hari Kartini dapat dimaknai sebagai momentum untuk merefleksikan sejauh mana perempuan telah berdaya dan menyadari tantangan yang dihadapi.
Untuk itu, pertanyaan yang relevan tentang perempuan tentunya bukan lagi apakah perempuan mampu, tetapi apakah ruang bagi perempuan benar-benar ada dan apakah perempuan berani untuk memanfaatkannya. Jawabannya , dengan meneladani Kartini berarti perempuan harus berani mengubah keterbatasan menjadi peluang.
Perempuan harus dapat memanfaatkan kecanggihan teknologi digital dan akses informasi yang semakin mudah untuk sarana perjuangan baru dalam mengaktualisasikan peran gandanya di berbagai lini kehidupan.
Semangat Kartini harus terus hidup pada jiwa perempuan Indonesia agar perempuan tetap memiliki ketangguhan dan keberanian melangkah dengan tenang, dengan sabar, dan dengan keyakinan bahwa apa yang diperjuangkan, sekecil apa pun tetap bernilai. Perempuan hebat, Indonesia kuat. (*)
Editor : Adinda Putri Sefiana