Nyalakan Api Semangat

Amalia Rizky Indah Permadani • Dipublikasikan Selasa, 21 April 2026 | 14:02 WIB
TOKOH PEREMPUAN: Istri Bupati  Mochamad Nur Arifin, Novita Hardini Mochamad, saat jadi pembicara di TGC Women Summit 2026, Sabtu (18/4). 
(PROKOPIM UNTUK RADAR TRENGGALEK)
TOKOH PEREMPUAN: Istri Bupati Mochamad Nur Arifin, Novita Hardini Mochamad, saat jadi pembicara di TGC Women Summit 2026, Sabtu (18/4). (PROKOPIM UNTUK RADAR TRENGGALEK)

KOTA, Radar Trenggalek – Spirit perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam narasi modern bukan lagi sekadar soal emansipasi fisik, melainkan kedaulatan dalam berpikir dan keberanian mengambil pilihan.

Tokoh perempuan Trenggalek yang kini melangkah ke pusat kebijakan nasional di Senayan, Novita Hardini Mochamad mengaku, esensi dari "Habis Gelap Terbitlah Terang" adalah proses batiniah bagi setiap perempuan untuk kembali ke akar dan mengenali tujuan hidupnya sebagai manusia.

Menurut dia, hidup bagi perempuan terutama mereka yang memikul beban ganda, adalah rangkaian ujian tak berkesudahan. Namun, perlu menyederhanakan tantangan tersebut ke dalam dua pilihan fundamental.  “Berjuang (fighting) atau diam menyerah,” terang istri Bupati  Mochamad Nur Arifin tersebut, saat jadi pembicara di TGC Women Summit 2026, Sabtu (18/4).      

Anggota DPR ini menyebut, pilihan untuk tetap optimistis di masa sulit adalah fondasi utama bagi perempuan untuk bertindak. Solusi atas beban hidup, menurut dia, bukan terletak pada seberapa keras suara yang dikeluarkan, melainkan pada pemahaman lahir dari kesadaran diri yang utuh.

Sebagai perempuan di pusaran politik Indonesia, Novita merefleksikan bahwa jabatan atau kursi bukanlah tujuan akhir. Politik baginya adalah sebuah "rumah" untuk mengasah kendali diri (self control).

Dia berpendapat tantangan terbesar perempuan bukanlah keterbatasan fisik atau ketiadaan posisi, melainkan kemampuan mengendalikan diri saat suara mereka tidak diberi porsi untuk didengar.

Di titik inilah, dia mengajak perempuan untuk tidak mengecilkan nilai (value) orang lain, tetapi fokus mengasah kekuatan unik pada diri masing-masing.

Dia pun menyoroti pentingnya literasi dan gagasan sebagai senjata utama perempuan modern. Baginya, suara tidak harus selalu berupa teriakan; suara bisa menggema jauh lebih kuat melalui tulisan dan karya nyata.

Dia meyakini, jika perempuan menyibukkan diri dengan gagasan mulai dari isu lingkungan hingga kemanusiaan, maka fitrah untuk bergerak maju akan terwadahi dengan baik.

Dengan menyulut "api" positif dari tingkat desa, diharapkan perempuan Trenggalek mampu bangkit dari kegelapan trauma maupun keterbatasan menuju kemandirian sejati. “Persis seperti api semangat yang dulu dinyalakan Kartini,” pungkasnya. (mal/c1/din)

Editor : Adinda Putri Sefiana
Sumber : RADAR TRENGGALEK
Momentum Hari Kartini Tokoh perempuan Trenggalek Novita Hardini Mochamad trenggalek