Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Sejarah Larung Sembonyo, Tradisi Warisan Leluhur Pesisir Prigi

Fatra Aditya • Jumat, 24 April 2026 | 11:12 WIB
SEJARAH DAN TRADISI: Prosesi Larung Sembonyo sebagai warisan budaya masyarakat pesisir Pantai Prigi. (FATRA ADITYA/RADAR TRENGGALEK)
SEJARAH DAN TRADISI: Prosesi Larung Sembonyo sebagai warisan budaya masyarakat pesisir Pantai Prigi. (FATRA ADITYA/RADAR TRENGGALEK)

WATULIMO, Radar Trenggalek - Tradisi Upacara Adat Larung Sembonyo yang diselenggarakan di kawasan Pantai Prigi, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, memiliki nilai historis yang begitu kuat bagi masyarakat setempat khusunya para masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan.

Secara turun-temurun, tradisi tersebut menjadi bentuk rasa syukur atas melimpahnya hasil tangkapan dan juga sebagai penghormatan kepada leluhur yang membuka wilayah pesisir Prigi.

Salah satu tokoh yang dikaitkan dengan sejarah tersebut adalah Raden Tumenggung Yudho Negoro yang dikisahkan sebagai orang yang membuka  kawasan pesisir Pantai Prigi.

“Secara historis acara ini juga menjadi penghormatan terhadap leluhur khususnya memperingati kisah Raden Tumenggung Yudho Negoro yang berhasil membuka wilayah pesisir prigi,” jelas salah satu panitia Larung Sembonyo, Wanto.

Baca Juga: Pengolahan Limbah Medis Masih Andalkan Rekanan, Puskesmas Belum Dilengkapi Insinerator

Larung Sembonyo awalnya merupakan ungkapan syukur masyarakat atas keberhasilan memanfaatkan laut sebagai sumber kehidupan. Tradisi ini kemudian berkembang menjadi upacara sedekah laut yang rutin digelar setiap tahun pada bulan Selo dalam penanggalan Jawa.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat melarungkan buceng agung atau tumpeng raksasa ke laut sebagai simbol persembahan. Buceng tersebut berisikan hasil bumi dan kepala kerbau yang memiliki makna simbolis sebagai bentuk rasa syukur dan harapan keselamatan. Wanto, mengatakan bahwa tradisi ini tetap dijaga karena memiliki nilai budaya dan sejarah yang kuat.

“Tradisi ini dilakukan setiap tahun, setiap bulan Selo penanggalan jawa sebagai bentuk manifestasi rasa sukur atas melimpahnya hasil tangkapan ikan serta permohonan keselamatan bagi nelayan saat melaut,” tuturnya. Tradisi ini bergulir selama tiga hari berturut-turut dengan agenda yang bebeda-beda.

Baca Juga: Komisi IV DPRD Soroti Pembangunan Pustu, Harus Lihat Status Tanah

Kegiatan diawali dengan pengajian akbar dan santunan pada anak yatim, yang kemudian dilanjut dengan istighosah dan tirakatan di hari kedua dan puncaknya di hari ketiga diawali dengan kirab tumpeng kemudian proses pelarungan dan ditutup dengan pagelaran wayang semalam suntuk.

Tradisi ini juga menjadi sarana mempererat kebersamaan masyarakat pesisir. Keterlibatan warga dalam setiap rangkaian acara menunjukkan kuatnya nilai gotong royong yang masih terjaga.

Hingga kini, Larung Sembonyo tetap dilestarikan sebagai identitas budaya masyarakat pesisir Prigi serta pengingat akan sejarah panjang terbentuknya kawasan tersebut.(tra/c1/din)

Editor : Adinda Putri Sefiana
#Wanto #larung sembonyo #trenggalek #kecamatan watulimo #pantai prigi