WATULIMO, Radar Trenggalek – Tradisi Upacara Adat Larung Sembonyo kembali digelar di kawasan Pantai Prigi, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, tahun 2026. Upacara adat sedekah laut ini diikuti ratusan nelayan dan masyarakat setempat.
“Larung sembonyo di Pantai Prigi, Watulimo merupakan upacara adat sedekah laut yang setiap tahun diselenggarakan oleh masyarakat,” jelas salah satu panitia Larung Sembonyo, Wanto.
Tradisi ini rutin dilaksanakan setiap bulan Selo penanggalan Jawa sebagai bentuk rasa syukur atas hasil laut serta doa keselamatan bagi nelayan saat melaut. Kegiatan upacara adat tersebut berlangsung selama tiga hari dengan puncak acara di hari ketiga.
Tradisi Larung Sembonyo diawali dengan kirab tumpeng dari kantor camat watulimo hingga ke kawasan Pantai Prigi. Sedangkan puncak kegiatan larung sembonyo tersebut ditandai dengan pelarungan buceng agung, yakni tumpeng raksasa berisi hasil bumi dan kepala kerbau ke tengah laut.
Baca Juga: Sejarah Larung Sembonyo, Tradisi Warisan Leluhur Pesisir Prigi
Prosesi pelarungan dilakukan di dermaga TPI PPN Prigi kemudian ditarik menggunakan kapal motor ke tengah laut yang diiringi ratusan perahu nelayan lainnya.
Masyarakat turut memadati pesisir untuk menyaksikan jalannya ritual upacara adat nan sakral tersebut, bahkan para nelayan yang ikut melarung buceng juga menghias kapalnya dengan hiasan bendera semeriah mungkin.
Wanto menyebut bahwa tradisi ini telah berjalan tiga tahun terkahir. Namun, pada tahun ini upacara adat tersebut sedikit berbeda, Wanto mengatakan tradisi tetap dilaksanakan meskipun di tengah kondisi hasil tangkapan ikan yang belum optimal.
Baca Juga: Komisi IV DPRD Soroti Pembangunan Pustu, Harus Lihat Status Tanah
Dimana tradisi tersebut selain sebagai rasa syukur tapi juga sebagai permohonan supaya masyarakat yang berprofesi nelayan diberikan hasil tangkapan yang melimpah.
“sudah tiga tahun ini berjalan, perbedaannya, ya keluhannya belum ada ikan, semoga larung semboyo ini menjadi berkah,” ungkapnya.
Ia berharap melalui pelaksanaan Larung Sembonyo, kondisi hasil tangkapan nelayan ke depan dapat membaik.
Selain itu, tradisi ini juga menjadi bentuk kearifan lokal yang terus dijaga oleh masyarakat pesisir. Larung Sembonyo tidak hanya menjadi ritual budaya, tetapi juga momentum kebersamaan dan harapan bagi nelayan di kawasan Prigi.(tra/c1/din)
Editor : Adinda Putri SefianaSumber : RADAR TRENGGALEK