GANDUSARI, Radar Trenggalek – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek mulai menyiapkan langkah antisipatif menghadapi ancaman kekeringan dengan memperkenalkan teknologi kondensasi. Teknologi tersebut merupakan metode menangkap uap dingin di udara untuk diubah menjadi air.
Inovasi tersebut diperkenalkan langsung oleh Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin saat kunjungan kerja di SDN 2 Sukorejo, Kecamatan Gandusari, Rabu (22/4).
Mas Ipin sapaan akrab Mochamad Nur Arifin menegaskan, ketersediaan air menjadi faktor utama dalam menjaga ketahanan pangan. Namun, saat ini siklus air alami dinilai semakin menurun akibat berkurangnya kawasan hutan serta rusaknya tampungan air bawah tanah.
“Kalau kita berbicara masalah pangan, salah satu komponen besar yang menentukan adalah ketersediaan air. Sementara itu, siklus air alami sudah tereduksi,” ujarnya.
Baca Juga: Distribusi MBG di Pogalan Diprotes Dugaan Menu Tak Layak, Satu Sekolah Pilih Kembalikan
Sebagai solusi, Pemkab Trenggalek mengembangkan teknologi kondensasi yang mampu menangkap uap dingin di udara dan mengubahnya menjadi air yang bisa dimanfaatkan masyarakat.
“Inovasi ini harapannya bisa membantu masyarakat memproduksi air sendiri, tidak hanya bergantung pada distribusi bantuan,” imbuhnya.
Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan potensi kekeringan tahun ini cukup tinggi. Setiap musim kemarau, sekitar 92 hingga 100 desa di Trenggalek kerap terdampak kekurangan air bersih.
Baca Juga: Pemkab Optimalkan Pembangunan Desa, TMMD Jadi Strategi Tekan Anggaran Infrastruktur
Kondisi tersebut selama ini membuat BPBD Trenggalek harus bekerja ekstra melakukan distribusi air setiap hari, bahkan tidak jarang mengalami keterlambatan karena tingginya kebutuhan.
“Selama ini BPBD (badan penanggulangan bencana daerah, Red) harus bolak-balik kirim air. Dengan teknologi ini, kita ingin masyarakat punya solusi mandiri,” jelasnya.
Selain itu, pemkab juga mulai mengalihkan belanja yang bersifat konsumtif ke investasi teknologi yang lebih berkelanjutan. Langkah ini dinilai lebih efektif dalam jangka panjang dibandingkan penanganan darurat.
Ke depan, teknologi ini akan terus dikembangkan. Saat ini masih menggunakan sumber listrik, namun direncanakan beralih ke energi tenaga surya agar lebih hemat biaya dan ramah lingkungan.
Dengan pengembangan tersebut, Pemkab Trenggalek berharap inovasi ini dapat diterapkan secara luas di desa-desa rawan kekeringan.
“Upaya ini sekaligus menjadi langkah konkret kami dalam menghadapi perubahan iklim dan menjaga ketersediaan air bagi masyarakat secara berkelanjutan, “ imbuh Mas Ipin. (jaz/c1/din)
Editor : Adinda Putri Sefiana