TRENGGALEK - Suasana khidmat sekaligus meriah menyelimuti kawasan Teluk Sumbreng, Kecamatan Munjungan, Selasa (28/4/2026).
Masyarakat setempat menggelar Pahargyan Adat Longkangan Teluk Sumbreng ke-177 sebagai wujud pelestarian tradisi leluhur sekaligus ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Tradisi ini telah dilaksanakan secara turun-temurun setiap bulan Selo dalam penanggalan Jawa. Nilai historis dan kearifan lokal yang terkandung di dalamnya semakin diakui setelah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda pada tahun 2025.
Penetapan tersebut memperkuat posisi Longkangan sebagai identitas budaya khas Munjungan yang patut dijaga keberlanjutannya.
Baca Juga: Sejarah Larung Sembonyo, Tradisi Warisan Leluhur Pesisir Prigi
Antusiasme masyarakat terlihat dari keterlibatan berbagai elemen, mulai tokoh adat, tokoh agama, pemuda, hingga pelaku UMKM yang turut memeriahkan kegiatan.
Pahargyan ini tidak hanya menjadi seremoni budaya, tetapi juga ruang kebersamaan yang mempererat solidaritas sosial dan semangat gotong royong. Camat Munjungan, Yusuf Widharto menyampaikan, apresiasi atas kekompakan masyarakat.
“Pahargyan Adat Longkangan Teluk Sumbreng ke-177 ini menjadi bukti bahwa masyarakat Munjungan memiliki akar budaya yang kuat, semangat gotong royong yang masih terjaga, serta rasa hormat yang tinggi terhadap warisan leluhur.
Ini bukan sekadar seremoni budaya, tetapi juga wujud syukur, kebersamaan, dan identitas masyarakat Munjungan yang harus kita rawat bersama,” ujarnya. Dia menambahkan, ke depan tradisi ini diharapkan mampu berkembang sebagai daya tarik wisata budaya.
Baca Juga: Car Free Day Kembali Digelar Warga Padati Kawasan dan UMKM Laris Manis
“Saya berharap Pahargyan ini terus lestari dan semakin berkembang, tidak hanya sebagai tradisi, tetapi juga mampu mengangkat potensi daerah, menggerakkan ekonomi masyarakat, serta memperkuat persatuan. Generasi muda juga perlu semakin mencintai nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya,” jelasnya.
Rangkaian kegiatan diisi dengan prosesi adat, doa bersama, serta pertunjukan seni tradisional yang menggambarkan kekayaan budaya lokal. Kehadiran UMKM juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Melalui Pahargyan ini, masyarakat tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga membuka peluang ekonomi berbasis budaya di Kabupaten Trenggalek. Tradisi Longkangan pun terus hidup sebagai kebanggaan daerah dan warisan untuk generasi mendatang. (bim/din)