BENDUNGAN, Radar Trenggalek – Anggaran pembangunan Bendungan Bagong masuk Desa Sumurup dan Sengon, Kecamatan Bendungan, mengalami pembengkakan. Tak main-main, pembekakan tersebut menyentuh hingga Rp 600 miliar.
Kenaikan biaya tersebut tidak lepas dari molornya pekerjaan proyek yang sempat terkendala, terutama pada tahap awal pelaksanaan.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Bendungan Bagong, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas, Senna Ananggadipa Adhitama mengakui, tambahan anggaran dibutuhkan untuk mendukung percepatan sekaligus penyempurnaan konstruksi bendungan.
“Awalnya kebutuhan anggaran sekitar Rp 2,1 triliun, namun sekarang ada tambahan sekitar Rp 600 miliar,” ujarnya.
Baca Juga: Warga Minta Camat Pule Dicopot, Dugaan Arogansi, Aspirasi dari Desa
Dia menjelaskan, proyek yang mulai dikontrakkan sejak 2018 tersebut baru bisa berjalan efektif pada 2021 hingga 2022. Hal ini disebabkan adanya kendala pembebasan lahan yang menghambat proses konstruksi di lapangan.
“Dulu kami menandatangani kontrak pada 2018, tetapi baru bekerja efektif pada 2021–2022 karena kendala lahan,” jelasnya.
Akibat keterlambatan tersebut, kebutuhan anggaran ikut meningkat seiring penyesuaian pekerjaan dan percepatan yang dilakukan agar target penyelesaian tetap tercapai pada 2029.
Saat ini, progres fisik pembangunan Bendungan Bagong telah mencapai 60 persen. Kondisi tersebut membuat BBWS Brantas terus mendorong percepatan pekerjaan, terutama pada struktur utama seperti main dam, timbunan, dan spillway.
“Tahun ini kami mengalokasikan sekitar Rp 130 miliar dengan serapan anggaran sudah mencapai 80 persen. Ini lebih baik dibanding tahun lalu yang hanya 60 persen,” ungkapnya.
Baca Juga: Pemkab Kaji Skema, Kini Perbaikan Jalan Perlu Anggaran Sekitar Rp 7 M
Meski sempat menghadapi kendala, Senna memastikan tidak ada masalah teknis besar yang menghambat pembangunan.
Beberapa longsoran yang terjadi di area proyek disebut sebagai dampak kondisi tanah koloidal yang labil, namun tidak memengaruhi struktur utama bendungan.
“Sisa lahan tinggal sekitar 2 persen, jadi secara umum sudah hampir tuntas,” tambahnya.
Bendungan Bagong sendiri dirancang memiliki kapasitas tampung hingga 17 juta meter kubik air dengan luas genangan sekitar 200 hektare. Infrastruktur ini diharapkan menjadi penopang ketahanan air dan pertanian di wilayah selatan Jawa Timur.
Dengan tambahan anggaran tersebut, pemerintah berharap proyek strategis nasional ini tetap dapat diselesaikan sesuai target dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.
“Semoga saja dengan penambahan anggaran ini pengerjaan bendungan bisa lebih maksimal dan selesai sesuai target di 2029,“ jlentreh Senna. (jaz/c1/din)