KOTA, Radar Trenggalek – Para pelaku usaha transportasi mobil penumpang umum (MPU) atau kol di Kabupaten Trenggalek kini kondisinya semakin meprihatinkan.
Pasalnya, penumpang kini beralih ke angkutan umum berbasis teknologi, di mana dianggap lebih cepat dan efisien. Hal tersebut juga dapat dibuktikan dengan sepinya aktivitas penumpang yang ada di Terminal MPU Kota.
“Sepi sekarang, paling cuma 1 sampai dua penumpang kalau jalan,” jelas salah satu sopir MPU, Sumarni, Jumat (8/5).
Dia menuturkan, kini hanya mengandalkan langganannya saja. Apabila tidak ada pesanan dari langganannya tersebut maka tidak mempunyai muatan.
Baca Juga: TKA untuk Ukur Kualitas Pendidikan Hasilnya sebagai Bahan Perbaikan Kompetensi
Namun, di sisi lain dia harus tetap menjalankan trayeknya dengan berharap mendapatkan penumpang di sepanjang trayeknya. “Kalau sekarang HP ndak bunyi ndak bawa penumpang, cuma berharap ada penumpang di jalan,” jelasnya.
Menurut dia, penumpang MPU sepi tersebut dipengaruhi adanya beragam transportasi umum dari ojek online (ojol) hingga travel.
MPU yang punya trayek sekarang ini kalah dengan travel-travel yang membawa penumpang langsung ke tujuan. Sedangkan MPU yang dijalankannya harus masuk terminal dan patuh terhadap trayeknya.
“Sekarang kan ada travel, mereka bisa langsung ke Surabaya, Malang, jemput dari rumah, ndak masuk terminal. Mobil pelat kuning sekarang susah,” ujar pria tersebut.
Sumarni mengatakan, MPU sekarang juga kalah dengan odong-odong yang biasa digunakan untuk mengantar rombongan pengantin.
Baca Juga: Bupati Copot Camat Pule, Digeser ke Disppusip, Respons Dinamika Sosial
Adanya odong-odong juga berimbas ke penghasilannya, di mana rombongan pengantin yang biasanya menyewa MPU kini lebih memilih menyewa odong-odong.
Dia menyayangkan masih memperbolehkan odong-odong beroperasi. Hal tersebut sangatlah tidak adil, karena MPU harus mengeluarkan biaya pajak hingga KIR sedangkan odong-odong tidak.
“Terus ada odong-odong, dulu orang sewa Elf, sekarang sewa odong-odong, Elf sekali jalan 18 orang, odong-odong bisa 40 orang sekali jalan, kalah MPU. Terus MPU masih bayar pajak, kir, tapi odong-odong kan nggak,” pungkasnya. (tra/din)
Editor : Isna Dzikirianti