POGALAN, Radar Trenggalek - Peringatan Hari Buku Nasional setiap 17 Mei bukan hanya dilakukan dengan kegiatan seremonial semata. Melainkan harus menjadi momentum penting untuk terus melestarikan buku sebagai gudang ilmu.
Termasuk yang dilakukan Riyadu Sulaiman yang sejak sekolah hingga saat ini terus aktif mengoleksi buku bahkan hingga ratusan judul sekaligus. Selain itu juga membuka perpustakaan mini di rumahnya.
Saat ditemui Jawa Pos Radar Trenggalek ini setelah melaksanakan tugas sebagai pekerja sosial, warga Desa Ngadirejo, Kecamatan Pogalan ini, mengaku ketertarikannya pada dunia literasi sudah tumbuh sejak lama.
Baca Juga: Dorong SMK Jatim Cetak Lulusan Siap Industri, Perbanyak Sertifikasi dan Praktik Industri
Itu terjadi terutama pada buku-buku filsafat, novel, hingga kitab kuning. Bahkan sejak 2017 hingga 2018, dia aktif menulis di blog dengan banyak mengulas bacaan filsafat dan terjemahan.
“Saya dulu memang suka baca, terutama filsafat dan novel. Buku-buku itu dulu mudah diakses, bahkan banyak versi PDF yang bisa dibaca,” ujarnya.
Dari kegemarannya tersebut, kini Riyadu telah mengoleksi sedikitnya 200 judul buku dari berbagai tahun dan penerbit. Tiap buku tersebut diberi nomor indeks sendiri.
Selain itu, koleksinya sebagian besar didapat dari berburu buku, donasi, hingga sisa buku komunitas yang tidak terpakai.
Selain itu juga didapat dari rekannya yang telah selesai dan bosan membaca buku tersebut. Sehingga saat itu dirinya mengganti sejumlah biaya seperti ongkos kirim untuk memiliki buku tersebut Dia juga sempat membuka donasi buku sejak 2013.
Baca Juga: Populasi Turun, Harga Sapi Kurban Melonjak Permintaan Luar Daerah Picu Kenaikan Harga
Buku yang masih layak akan disumbangkan ke perpustakaan, sementara yang sudah tidak layak dijual ke pengepul untuk kemudian digunakan membeli perlengkapan seperti sampul buku.
Perlengkapan seperti sampul buku tersebut digunakan untuk mempercantik buku sebelum didonasikan. Kegiatan itu dilakukannya lewat komunitas literasi, tapi saat ini komunitas tersebut telah fakum.
Tak hanya mengoleksi, Riyadu juga membuka perpustakaan mini di rumahnya sebagai ruang baca bagi masyarakat sekitar. Dia ingin budaya membaca tetap hidup meski akses buku semakin terbatas.
Namun karena koleksi bukunya tergolong langka dan sulit didapat, Riyadu membuat semboyan unik bagi para pembaca. “Saya kasih slogan ‘oleh moco haram digowo’, boleh dibaca tapi tidak boleh dibawa pulang,” jelasnya.
Baca Juga: Pemeriksaan Kesahatan CJH Berlapis
Menurut dia, buku adalah sumber ilmu yang sangat berharga, sehingga harus dijaga keberadaannya agar tetap bisa dimanfaatkan banyak orang.
Melalui koleksi ratusan buku dan perpustakaan mini yang dibangunnya, Riyadu Sulaiman menunjukkan bahwa peringatan Hari Buku bukan sekadar seremoni, tetapi juga langkah nyata dalam menjaga dan merawat buku sebagai gudang ilmu bagi generasi mendatang.
“Manfaat yang didapat lewat membaca buku tidak terjangkau, makanya lewat mengoleksi buku ini saya ingin mengajak anak-anaknya generasi muda untuk mencari ilmu,“ jelas pria 35 tahun ini. (jaz/din)