KAMPAK, Radar Trenggalek - Tidak dipungkiri Bumi Menak Sopal memiliki talenta di dunia literasi seperti penulis yang luar biasa. Salah satunya adalah Kusnul Pujianto yang sukses menulis novel hingga dilirik penerbit nasional.
Kendati tidak memiliki latar belakang pendidikan sebagai penulis bukan berarti warga Desa Karangrejo, Kecamatan Kampak, ini tidak bisa menghasilkan karya.
Buktinya sudah puluhan karya yang ditulis lewat sebuah platform aplikasi menulis telah dilahirkan. Bahkan saat ini sudah ada dua novel karyanya yang telah dipasarkan oleh penerbit nasional.
“Sebenarnya ada tiga karya novel saya, namun yang satu dari penerbit gramedia saat ini belum ada kejelasan setelah sang editor resign.
Baca Juga: Riyadu Sulaiman, Jaga Buku sebagai Gudang Ilmu Kumpulkan Lebih dari 200 Judul dan Buka Ruang Baca
Tapi syukurlah dari penerbit itu (Gramedia, Red) satu karya saya berjudul Kobeng Jiwa yang Tersesat sudah diterbitkan,“ jelas Kusnul Pujianto ketika ditemui Koran ini setelah bekerja.
Tak ayal, hal tersebut membuktikan pada momen Hari Buku Nasional yang diperingati setiap 17 Mei, kisah Kusnul yang dikenal dengan nama pena Bung Kus menjadi inspirasi.
Meski bukan berasal dari dunia sastra, dia mampu menghasilkan karya yang diminati pembaca. Kusnul mengawali perjalanannya dengan membaca berbagai buku, khususnya bergenre misteri dan thriller.
Ketertarikannya pada cerita teka-teki hingga kasus pembunuhan membentuk gaya penulisannya yang lugas dan to the point. “Lebih suka misteri dan thriller. Saya tidak terlalu suka romansa, jadi menulisnya juga langsung ke inti cerita,” ujarnya.
Selama periode 2009 hingga 2020 saat masih tinggal di Madiun, dia lebih banyak membaca sebelum akhirnya mulai aktif menulis. Momentum pandemi Covid-19 menjadi titik baliknya untuk serius berkarya.
Baca Juga: NU Dominasi Hibah Ormas, Dari Lima Penerima Banyak Proposal Gugur
“Waktu pandemi banyak waktu luang, akhirnya coba nulis cerpen, lalu lanjut ke novel,” ungkapnya.
Dalam prosesnya, Kusnul dikenal cukup disiplin. Dia terbiasa menulis hingga 3.000 kata per hari tanpa jeda saat mengerjakan novel.
Bahkan untuk satu karyanya bisa menyelesaikan draf dalam tiga bulan dan menghabiskan waktu hingga enam bulan untuk revisi.
Karya-karyanya pun mulai mendapat tempat. Dia telah menghasilkan sejumlah cerpen yang tergabung dalam antologi, serta beberapa novel yang dipublikasikan di platform digital hingga penerbit nasional seperti Gramedia.
Hingga 2025, tercatat dia telah menulis sedikitnya dua novel yang terbit, sementara satu lainnya masih dalam proses. Selain itu, ada beberapa karya cerpen antologi yang juga telah dirilis, baik sebelum maupun setelah pandemi.
Baca Juga: Dua Dewan Izin ke Luar Negeri Alasan untuk Haji, Sekwan Tegaskan Prosedur Sesuai Aturan
Menariknya, dalam setiap karyanya Kusnul juga menyisipkan unsur lokal Trenggalek, seperti penggunaan dialek Jawa lengkap dengan catatan kaki, hingga mengenalkan kuliner khas seperti lodho.
“Biar pembaca juga tahu budaya daerah kita,” katanya.
Meski kini aktivitas menulisnya tidak seintens saat pandemi karena kesibukan lain, Kusnul tetap konsisten berkarya meski dilakukan secara berkala.
“Dengan ini saya bisa membuktikan, tetap bisa menghasilkan karya berkualitas asalkan memiliki kemauan, konsistensi, dan kecintaan pada dunia literasi,“ jelas pria 35 tahun ini. (jaz/din)
Editor : Isna Dzikirianti