KOTA, Radar Trenggalek – Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia (UDD PMI) Kabupaten Trenggalek tetap memberikan pelayanan penyediaan darah bagi pasien BPJS meski tarif penggantian darah dinilai masih rendah dibanding biaya operasional yang dikeluarkan.
Kepala UDD PMI Trenggalek, dr Sugito Teguh mengatakan, kebutuhan darah di Trenggalek rata-rata mencapai 600 kantong per bulannya. Dari jumlah tersebut, sekitar 40 persen di antaranya merupakan kebutuhan pasien BPJS.
Namun, tarif penggantian darah untuk pasien BPJS hingga kini masih berada di angka sekitar Rp 360 ribu per kantong atau 40 persen dari harga aslinya yang kurang lebih mencapai Rp 490 ribu.
Nilai tersebut dinilai belum sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan PMI untuk pengolahan darah. “Kalau yang BPJS itu sebenarnya kita jual rugi,” ujarnya.
Baca Juga: Iseng Menulis Ketika Pandemi, Kusnul Pujianto Sukses Tembus Penerbit Nasional, Tanpa Pendidikan Penulis, Tetap Konsisten Buat Novel
“Yang BPJS itu memang belum menutup biaya operasional sepenuhnya,” imbuhnya.
Sugito menjelaskan, PMI harus menyediakan kantong darah yang per kantungnya dibanderol dengan harga Rp 100 ribu. Belum dengan berbagai peralatan medis pendukung lainnya seperti jarum, kapas, tensimeter, dan semacamnya.
Menurut dia, seluruh proses tersebut membuat biaya operasional pengolahan darah cukup tinggi. “Kantong darahnya saja sekarang hampir Rp 100 ribu per kantong,” ungkapnya.
Selain itu, terdapat proses pengolahan darah membutuhkan biaya cukup besar. Mulai dari pemeriksaan kesehatan pendonor, pengambilan darah, hingga pemeriksaan laboratorium seperti HIV, sifilis, hepatitis, dan pengecekan golongan darah.
Baca Juga: BRI Salurkan Bantuan CSR Pembangunan Gapura dan Pagar Lapangan Budaya Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek
“Belum pemeriksaan laboratoriumnya. Pemeriksaannya banyak, mulai HIV, hepatitis, sifilis, golongan darah, itu semua biayanya besar,” terangnya
Meski demikian, PMI tetap berupaya memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat. Sugito menyebut pelayanan kemanusiaan tetap menjadi prioritas utama PMI meskipun kondisi operasional cukup berat.
“Walaupun berat, pelayanan darah tetap harus jalan karena menyangkut kebutuhan pasien,” pungkasnya. (tra/c1/din)