POGALAN, Radar Trenggalek - Selain permintaan hewan ternak untuk korban, tusuk sate merupakan komoditas yang diburu menjelang Hari Raya Idul Adha 2026 ini.
Buktinya, permintaan komoditas tersebut melonjak drastis, bahkan mencapai hampir dua kali lipat dibanding hari biasa.
Tak ayal kondisi tersebut membuat perajin kewalahan memenuhi pesanan. Bahkan, berdasarkan informasi yang didapat Jawa Pos Radar Trenggalek ini, lonjakan permintaan mulai terasa dalam beberapa hari terakhir.
Jika pada hari normal ia bersama enam pekerja mampu memproduksi 3 hingga 4 kuintal per hari, kini angka itu naik menjadi sekitar 7 kuintal per hari.
Baca Juga: Anak Muda Incar Peluang Kerja dan Kuliah di Korea
“Menjelang Idul Adha ini permintaan banyak sekali, Mas. Kurang lebih sekitar 7 kuintalan habis per harinya itu,” ujar salah satu perajin di Desa/Kecamatan Pogalan, Herno Nurmanto.
Dengan tingginya permintaan tersebut, Nur mengaku tidak bisa melayani semua pesanan yang masuk. Dia terpaksa memprioritaskan pelanggan lama yang sudah berlangganan.
“Yang saya cover cuma pelanggan lama saja. Soalnya permintaan hampir dua kali lipat dari hari biasa,” tandasnya.
Meski permintaan meningkat tajam, dia memastikan ketersediaan bahan baku masih relatif aman.
Bambu sebagai bahan utama banyak diperoleh dari sejumlah wilayah di Trenggalek seperti Dongko, Munjungan, Kampak, hingga luar daerah seperti Sendang, Tulungagung.
Baca Juga: Harga Sapi Kurban Naik Signifikan, Stok Terbatas karena Peternak Trauma PMK
“Bahannya mengambil dari beberapa kecamatan. Itu untuk mengantisipasi kalau satu lokasi telat,” jelasnya.
Untuk menjaga kualitas, Nur memilih jenis bambu tertentu, seperti bambu petung dan bambu ori yang dinilai lebih kuat dan halus untuk produksi tusuk sate.
Dari sisi pemasaran, produknya tidak hanya diserap pasar lokal Trenggalek, tetapi juga merambah Tulungagung, Kediri, Nganjuk, hingga luar daerah seperti Jawa Tengah melalui jasa ekspedisi.
Dalam proses produksi, bambu yang telah dipotong terlebih dahulu dimasukkan ke mesin pembentuk awal, kemudian dilanjutkan ke mesin irat dan slicer untuk menghasilkan tekstur halus. Setelah itu, tusuk dipotong sesuai ukuran dan dipoles agar lebih rapi sebelum dipasarkan.
“Lonjakan permintaan ini menjadi berkah kami. Meski di sisi lain keterbatasan kapasitas produksi membuat tidak semua pesanan dapat terpenuhi, dan kami memohon maaf atas hal itu,“ jelasnya. (jaz/c1/din)