Rahasia Nogo Dino Menurut Primbon Jawa, Hari dan Arah yang Diyakini Bawa Sial serta Seret Rezeki

Novica Satya Nadianti • Dipublikasikan Sabtu, 23 Mei 2026 | 23:34 WIB
Nogo Dino dalam primbon Jawa dipercaya menentukan arah sial dan rezeki seret berdasarkan hari serta pasaran tertentu.(freepik.com)
Nogo Dino dalam primbon Jawa dipercaya menentukan arah sial dan rezeki seret berdasarkan hari serta pasaran tertentu.(freepik.com)

 

JAKARTA - Kepercayaan masyarakat Jawa terhadap Nogo Dino kembali menjadi perbincangan setelah banyak konten budaya Jawa membahas arah dan hari yang diyakini dapat memengaruhi keberuntungan seseorang. Dalam tradisi primbon Jawa, Nogo Dino dipercaya menempati arah tertentu pada hari tertentu dan dianggap bisa membawa kesialan, rezeki seret, hingga kegagalan usaha jika dilanggar.

Konsep Nogo Dino sendiri sudah lama dikenal dalam adat Jawa, khususnya untuk menentukan arah perjalanan, berdagang, hingga memilih waktu lamaran dan pindah rumah. Kepercayaan ini masih dipakai sebagian masyarakat karena dianggap sebagai bagian dari warisan leluhur yang diwariskan turun-temurun.

Dalam penjelasan yang beredar di kanal YouTube budaya Jawa, disebutkan bahwa posisi Nogo Dino berbeda setiap hari. Pada Kamis, Jumat, dan Minggu, Nogo Dino diyakini berada di arah timur. Sementara Sabtu berada di selatan, sedangkan Senin, Selasa, dan Rabu berada di barat. Ada pula posisi khusus di utara yang dikaitkan dengan pasaran Wage.

Baca Juga: Nogo Dino Bulanan dalam Primbon Jawa Jadi Perhatian, Begini Cara Menentukan Arah Lamaran dan Pernikahan agar Tidak Sial

Nogo Dino Diyakini Bisa Membawa Apes dan Rezeki Seret

Dalam primbon Jawa, arah yang ditempati Nogo Dino dipercaya harus dihindari ketika seseorang hendak bepergian, berdagang, atau melakukan aktivitas penting. Jika nekat menuju arah tersebut, diyakini akan mengalami kesialan.

Sebagai contoh, ketika Jumat Legi dan Nogo Dino berada di timur, seseorang disarankan tidak pergi atau berdagang ke arah timur dari rumahnya. Masyarakat Jawa percaya langkah tersebut bisa menyebabkan dagangan sepi, kehilangan uang, hingga tertipu saat membeli barang.

“Kalau berdagang ke arah yang ditempati Nogo Dino, rezekinya bisa diambil,” demikian penjelasan dalam tayangan tersebut.

Kepercayaan ini juga sering dipakai pedagang keliling tradisional di sejumlah daerah Jawa. Mereka memilih arah berbeda agar dianggap lebih hoki dan dagangannya lancar. Praktik tersebut masih ditemukan terutama di wilayah pedesaan yang masih memegang kuat adat Jawa.

Baca Juga: Kenapa Suara Petir Datang Setelah Kilat? Ternyata Ini Penyebab Guntur Terdengar Telat Saat Hujan

Selain arah harian, pasaran Jawa juga dianggap berpengaruh. Kliwon diyakini berada di tengah, Pahing di selatan, Pon di barat, Wage di utara, dan Legi di timur. Kombinasi hari dan pasaran inilah yang kemudian dipakai untuk membaca keberuntungan seseorang.

Hari Wage Dianggap Hari Kosong dalam Primbon Jawa

Salah satu bagian yang paling menarik perhatian adalah anggapan bahwa Wage merupakan hari kosong. Dalam tradisi Jawa, hari kosong diyakini kurang baik dipakai untuk acara besar atau keputusan penting.

Karena itu, sebagian orang menghindari hari Wage untuk menikah, pindah rumah, atau memulai usaha baru. Mereka percaya kegiatan yang dilakukan pada hari tersebut dapat membawa hasil kurang maksimal.

Dalam penjelasan itu disebutkan, pesta pernikahan yang dilakukan pada hari Wage dipercaya bisa membuat tamu sepi. Sementara pindah rumah pada hari tersebut diyakini menyebabkan rezeki seret.

Baca Juga: Nogo Dino Menurut Primbon Jawa Kembali Jadi Perbincangan, Pedagang hingga Pindah Rumah Disebut Harus Hindari Arah Ini

Kepercayaan tersebut memang tidak memiliki dasar ilmiah, tetapi masih dipraktikkan sebagian masyarakat sebagai bentuk penghormatan terhadap adat dan tradisi leluhur. Bahkan hingga kini, sejumlah keluarga Jawa masih berkonsultasi dengan orang tua atau tokoh adat sebelum menentukan hari baik.

Primbon Jawa sendiri dikenal sebagai kumpulan pengetahuan tradisional yang memuat hitungan hari, weton, arah, hingga ramalan kehidupan. Tradisi ini berkembang sejak lama dan tetap bertahan di tengah modernisasi.

Dipakai untuk Lamaran hingga Menentukan Arah Dagang

Tidak hanya untuk aktivitas sehari-hari, Nogo Dino juga dipercaya berpengaruh dalam urusan lamaran. Dalam adat Jawa, arah rumah calon pasangan dan waktu keberangkatan sering diperhitungkan agar prosesi berjalan lancar.

Baca Juga: Bisakah Kita Selamat Jika Tersambar Petir? Ini Penjelasan Ilmiah dan Dampak Mengerikan pada Tubuh

Misalnya, jika rumah calon pasangan berada di arah barat, maka keluarga pelamar dianjurkan memilih hari yang dianggap aman dari posisi Nogo Dino. Tujuannya agar tidak dipermalukan atau mengalami hambatan selama proses lamaran.

Selain itu, masyarakat juga percaya arah perjalanan bisa memengaruhi keberuntungan dagang. Pedagang yang menghindari arah Nogo Dino disebut lebih mudah mendapatkan pembeli dan terhindar dari kerugian.

Dalam tayangan tersebut, masyarakat bahkan diajak mencoba sendiri kepercayaan tersebut sebagai bentuk pembuktian. Pedagang diminta membandingkan hasil berdagang ketika menuju arah yang dianggap sial dan arah yang dianggap aman.

Baca Juga: Motor Listrik Subsidi 2026 Mulai Rp5 Juta, Ini 5 Pilihan Terbaik dan Layak Dipakai Harian di Indonesia

Meski demikian, banyak kalangan menilai kepercayaan seperti Nogo Dino sebaiknya dipahami sebagai bagian budaya dan tradisi masyarakat Jawa, bukan aturan mutlak. Sebab, keberhasilan usaha dan rezeki tetap dipengaruhi kerja keras, strategi, serta kondisi ekonomi yang nyata.

Tradisi Nogo Dino hingga kini tetap menjadi bagian menarik dari kekayaan budaya Jawa yang masih dipercaya sebagian masyarakat sebagai pedoman menjalani kehidupan sehari-hari.

Editor : Novica Satya Nadianti
Hari Sial Jawa Arah Rezeki Menurut Jawa Tradisi Adat Jawa Primbon Jawa Nogo Dino