Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Subsidi Jagung Bisa Jadi Penyangga, Hadapi Biaya Pakan Melambung, Bisa Masuk ke Paguyuban Papeter

Zaki Jazai • Rabu, 3 Juni 2026 | 09:53 WIB
JADI SOLUSI: Peternak ayam petelur kini kebingungan lantaran harga pakan tinggi. (ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)
JADI SOLUSI: Peternak ayam petelur kini kebingungan lantaran harga pakan tinggi. (ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

KOTARadar Trenggalek – Kenaikan harga pakan ayam yang dipicu fluktuasi nilai tukar dolar memaksa peternak, khususnya ayam di Bumi Menak Sopal dan sekitarnya, memutar strategi.

Salah satu opsi yang tepat untuk menekan biaya pakan tersebut adalah mengajukan subsidi jagung ke pemerintah.

Hal tersebut diakui Kabid Perbibitan, Pakan, dan Produksi Peternakan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Trenggalek, Yoyon Hariyanto.

Menurut dia, untuk menjaga keberlangsungan usaha, disnakkan siap menyalurkan subsidi jagung bagi peternak ayam termasuk ayam petelur.

Baca Juga: Pernah Ramai, Wisata Banyu Nget Terbengkalai

Program subsidi jagung tersebut telah berjalan sejak 2024 dan menjadi salah satu langkah konkret pemerintah dalam menekan biaya produksi peternak.

“Subsidi jagung ini untuk membantu peternak, karena sekitar 50 persen komposisi pakan berasal dari jagung. Saat harga naik, mereka bisa mengajukan subsidi,” jelas Yoyon.

Dia menyebutkan, pada periode 2024 hingga 2025, realisasi subsidi mencapai 812,4 ton jagung kering yang disalurkan kepada 56 peternak di Trenggalek.

Sementara untuk tahun ini, realisasi tahap pertama telah mencapai 65 ton. “Pengajuannya relatif sama seperti tahun sebelumnya. Untuk tahun ini, tahap pertama sudah terealisasi 65 ton,” ujarnya.

Yoyon menambahkan, mekanisme penyaluran subsidi bergantung pada kondisi harga pasar. Peternak baru akan mengajukan ketika harga jagung melonjak di atas Rp 6.000 per kilogram, bahkan umumnya mulai mengambil saat harga menyentuh Rp 9.000 per kilogram (kg).

Baca Juga: Jalan JLS Berlubang, Rusak Kenyamanan

Melalui skema subsidi tersebut, peternak bisa memperoleh jagung dengan harga lebih terjangkau yakni sekitar Rp 5.500 per kg.

“Dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) itu Rp 5.000, kemudian paguyuban menjual ke peternak Rp 5.500 untuk operasional. Pengambilannya di gudang Bulog,” tandasnya.

Dalam setahun, penyaluran subsidi dilakukan hingga empat tahap. Namun, realisasinya tetap menyesuaikan kebutuhan peternak dan kondisi harga di lapangan.

Disnakkan juga membuka kesempatan bagi peternak yang belum tergabung dalam Paguyuban Peternak Ayam Petelur (Papeter) Trenggalek agar bisa mengakses program tersebut.

“Kalau ada peternak yang ingin bergabung, kami persilakan. Bisa lewat paguyuban atau langsung ke dinas,” paparnya.

Baca Juga: Potensi PAD Bocor Akibat Reklame Liar

Di sisi lain, peternak ayam petelur asal Desa Ngulankulon, Kecamatan Pogalan, Defi Sugiarto, mengaku kenaikan harga pakan tidak sebanding dengan harga telur di pasaran.

Kondisi ini membuat peternak berada pada posisi sulit. “Kalau soal pakan, kami tidak berani mengurangi atau mengoplos. Kalau dikurangi nanti ayam tidak bertelur,” imbuh Defi.

Menurut dia, opsi meracik pakan sendiri juga bukan solusi mudah karena keterbatasan waktu dan tenaga. Dengan memilih tetap menjaga kualitas pakan agar produksi telur tetap stabil.

“Terpenting ayam sehat, makannya bagus, supaya hasil telurnya juga bagus. Soal harga ya mengikuti pasar,” tandasnya. (jaz/c1/din)

Editor : Isna Dzikirianti
#Kenaikan harga pakan ayam #fluktuasi nilai tukar dolar #Disnakkan Trenggalek #mengajukan subsidi jagung #peternak ayam petelur