Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Jeritan Pedagang Pasar Pon

Fatra Aditya • Senin, 8 Juni 2026 | 13:13 WIB
JANGAN MELOMPONG: Mayoritas kios di Pasar Pon Trenggalek hingga kini belum terisi penyewa meski lokasi berada di dalam bangunan megah yang berada di tengah kota. (FATRA ADITYA / RADAR TRENGGALEK)
JANGAN MELOMPONG: Mayoritas kios di Pasar Pon Trenggalek hingga kini belum terisi penyewa meski lokasi berada di dalam bangunan megah yang berada di tengah kota. (FATRA ADITYA / RADAR TRENGGALEK)

KOTA, Radar Trenggalek - Harapan para pedagang di Pasar Pon di bawah naungan bangunan megah masih belum bisa diwujudkan. Yakni menarik minat warga untuk datang dan berbelanja barang-barang dagangan mereka.

Harapan yang justru terbalik dengan dana pembangunan pasar termegah di Bumi Menak Sopal ini dari APBN senilai Rp 78,3 miliar (M). 

“Kalau dulu di Pasar Pon lama sebelum terbakar pada tahun 2019, jelas sekali suasana pasar ramai. Namun entah di sini sekarang masih jauh dari harapan,”  terang salah satu pedagang, Aulia Rahma Rosida, Kamis (4/6).

Dia mengaku masih ingat betul ketika masih bisa berdagang di pasar lama. Suasana begitu ramai, para pedagang berbaur serta pengunjung berjubel.

Bahkan ketika itu, orang tua, kakek, serta dia, mengelola kios di pasar lama yang bisa dijadikan pendapatan harian.

Baca Juga: Pedagang Ingin Revitalisasi Pasar Durenan

Waktu itu memang antara pasar basah dan kering dijadikan satu sebelum kobaran api meludeskan kios-kios pedagang.

Para pengunjung bisa memiliki banyak pilihan, darai makanan, buah, sayur, maupun barang-barang kering dari baju, kebutuhan mebel, dan lain-lain.

Namun, usai pembangunan baru Pasar Pon dan difungsikan sekitar 2021, kondisi berubah total terutama pada pedagang.

Mereka tak lagi memiliki harapan banyak dengan omzet hasil penjualan yang terus menurun. Hari-hari menjaga kios pun tak seberapa menghasilkan.

Di momen tertentu, termasuk Lebaran, puasa, dan jelang tahun ajaran baru anak sekolah, biasanya ramai, terutama untuk baju-baju seragam.

Dengan kondisi yang masih belum menggembirakan, ada beberapa upaya dari dinas terkait, termasuk parkir gratis serta akses pintu masuk.

“Dulu kalau karcis hilang ada denda, tapi kini sudah tidak ada,” jelas perempuan berkerudung itu.

Meski beragam upaya dilakukan dari pemkab, termasuk pelatihan marketing online yang tidak semua pedagang ikut, serta gelaran event, belum ada peningkatan kunjungan signifikan.

Melihat kondisi tidak menguntungkan, bahkan beberapa pemilik kios enggan untuk buka serta tidak meneruskan untuk berjualan.

Baca Juga: Terminal Durenan Dimanfaatkan Titik Transit , Bus Tak Wajib Masuk

Mereka beranggapan lebih menguntungkan ke sektor lain, termasuk ada bertani, dagang di tempat lain, untuk menyambung hidup.

Pedagang pun sudah tidak  bisa berbuat banyak dengan kondisi Pasar Pon yang baru dan megah.

Dulu, luasan kios di pasar lama masih lumayan dan kini tergolong kecil. Apalagi yang berada di lantai dua, para pengunjung akan lebih malas untuk naik.

Masih ada beberapa keluhan pedagang, termasuk ketersediaan air. “Kalau sekarang serbaterbatas. Dulu air bisa bor sendiri,” pungkasnya. (tra/c1/din)

Editor : Adinda Putri Sefiana
#Bumi Menak Sopal #pemilik kios enggan untuk buka \ #pasar pon trenggalek #Pemkab Trenggalek