KOTA, Radar Trenggalek – Beban tempat pemrosesan akhir (TPA) Srabah kian berat. Selain sampah rumah tangga, keberadaan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ikut menambah volume sampah harian di Kabupaten Trenggalek.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Trenggalek mulai melakukan pengawasan terhadap pengelolaan limbah di dapur-dapur MBG. Langkah ini dilakukan untuk memastikan sampah dari aktivitas memasak skala besar tidak seluruhnya berakhir di TPA.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Trenggalek, Cusi Kurniawati, mengatakan bahwa telah turun langsung ke sejumlah lokasi SPPG untuk melakukan inspeksi sekaligus edukasi.
Baca Juga: Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Pemkab Trenggalek Dorong Aksi Nyata Kelola Sampah
“Kami sudah mengambil sampel di beberapa SPPG dan akan melanjutkan kunjungan ke seluruh dapur MBG di Trenggalek. Selain memastikan IPAL berfungsi normal, kami juga memberikan edukasi tentang pengelolaan sampah langsung dari sumbernya,” ujar Cusi.
Menurut dia, sampah dari dapur MBG berpotensi memperberat beban TPA jika tidak dikelola dengan baik. Padahal, sebagian besar limbah dapur masih bisa diolah sebelum dibuang.
DLH bersama Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) bahkan telah meninjau dua lokasi SPPG sebagai percontohan. Pekan depan, pengawasan akan diperluas ke dapur-dapur lainnya.
Baca Juga: Jalan Rusak di Desa Prambon Belum Tersentuh, Perbaikan, Warga Harap Segera Ditangani
Cusi menegaskan, pengelola dapur tidak boleh hanya mengandalkan IPAL untuk limbah cair, tetapi juga wajib mengelola sampah padat sejak dari sumbernya.
“Kami meminta pengelola tidak langsung membuang seluruh sampah ke TPA. Mereka harus mengolah sampah organik, memilah sampah anorganik, memisahkan residu, dan memastikan limbah cair masuk ke IPAL,” tegasnya.
Data DLH menunjukkan, tingkat pengolahan sampah di Trenggalek saat ini masih di bawah 40 persen. Artinya, sebagian besar sampah masih berakhir di TPA Srabah.
Setiap hari, sekitar 51 ton sampah diangkut ke TPA tersebut. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi pemerintah daerah dalam menjaga keberlanjutan pengelolaan sampah.
“Kalau tidak dikendalikan dari sumbernya, termasuk dari dapur MBG, maka beban TPA akan semakin berat. Karena itu, pengelolaan dari hulu menjadi kunci,” jelas Cusi.
DLH berharap dapur-dapur MBG dapat menjadi contoh dalam pengelolaan limbah yang baik. Dengan begitu, keberadaan program tersebut tidak justru menambah persoalan baru di sektor lingkungan.
“Ini tanggung jawab bersama. Kami ingin pengelolaan sampah lebih tertib agar TPA tidak cepat penuh,” pungkas Asisten II Sekda Trenggalek ini. (jaz/c1/din)
Editor : Adinda Putri Sefiana