KOTA, Radar Trenggalek - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi per 10 Juni 2026 mulai mengubah pola konsumsi masyarakat di Kabupaten Trenggalek.
Selisih harga yang cukup lebar membuat sebagian besar pengguna kendaraan beralih ke Pertalite. Meski demikian, masih ada konsumen yang tetap setia menggunakan Pertamax.
Dari pantauan di sejumlah SPBU, termasuk SPBU 54.663.04 Terminal Surodakan, menunjukkan lonjakan signifikan pada penjualan Pertalite sejak hari pertama pemberlakuan harga baru. Hal ini dipicu kenaikan harga Pertamax RON 92 dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter atau naik Rp 3.950.
Baca Juga: Pemkab Manfaatkan CSR Bank Jatim untuk Percantik Kota, Kolaborasi untuk Mewujudkan Kota Atraktif
“Pergeseran konsumsi terlihat jelas dari volume penyaluran BBM. Biasanya pada jam yang sama penyaluran Pertalite sekitar 4 ton, sekarang sudah hampir 6 ton. Ada lonjakan karena konsumen Pertamax beralih ke Pertalite,” ujar Kepala SPBU Terminal Surodakan Trenggalek, Kurniatri Baskoro Edi, Kamis (11/6).
Dengan harga Pertalite yang tetap Rp 10.000 per liter, selisih dengan Pertamax kini mencapai Rp 6.250 per liter. Kondisi ini mendorong masyarakat memilih BBM subsidi untuk menekan pengeluaran harian.
Meski tren peralihan cukup kuat, tidak semua konsumen meninggalkan Pertamax. Sebagian tetap memilih BBM nonsubsidi tersebut dengan berbagai pertimbangan, terutama kualitas.
Baca Juga: Fokus Tangani Kebocoran Pipa , Transmisi maupun Distribusi
Di sisi lain, pihak SPBU memastikan stok Pertalite masih dalam kondisi aman meski permintaan meningkat. Saat ini, pasokan harian mencapai sekitar 16 kiloliter dan dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Stok Pertalite aman dan terkendali. Pasokan dari Pertamina juga lancar,” jelas Baskoro.
Meski demikian, pengawasan lebih ketat dilakukan pada distribusi biosolar yang memiliki kuota terbatas. SPBU Surodakan hanya menerima sekitar 240 kiloliter per bulan untuk jenis BBM tersebut.
“Dengan kondisi ini, perubahan pola konsumsi diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan. Sebab, jika tren beralih ke BBM subsidi terus meningkat, potensi kepadatan di jalur Pertalite di sini juga semakin besar,“ jelasnya.
Sementara itu, salah satu konsumen di SPBU tersebut, Siti Zulaikha, mengaku tetap menggunakan Pertamax meski harganya naik.
Baca Juga: 20 Titik KDMP Masih Tunggu Izin, Tinggal Tahap Upload Foto
Dia menilai performa kendaraan lebih baik saat menggunakan BBM tersebut. “Memang naik, ya terasa. Biasanya beli Rp 20 ribu jadi Rp30 ribu. Tapi saya tetap pakai Pertamax karena enak untuk motor,” ujarnya.
Dia berharap ke depan tidak ada lagi kenaikan harga BBM karena berpotensi memicu kenaikan kebutuhan lainnya. “Kalau BBM naik, biasanya yang lain ikut naik. Harapannya ya jangan naik lagi,” imbuhnya.
Berbeda dengan Siti, konsumen lain, Ahmad Zaeni, memilih tetap menggunakan Pertamax dengan sikap lebih santai. Dia mengaku menerima kebijakan tersebut dan tetap optimistis.
“Terpenting lancar. Demi dan untuk NKRI. Harapannya, Indonesia semakin sejahtera,” pungkasnya. (jaz/c1/din)
Editor : Isna Dzikirianti