WATULIMO, Radar Trenggalek - Deru mesin perahu kecil berpadu dengan riuh sorak penonton mewarnai Pantai Cengkrong, Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo, kemarin (16/6). Sebanyak 28 peserta ambil bagian dalam lomba balap perahu kunting yang menjadi rangkaian kegiatan Labuh Laut Larung Sembonyo yang puncaknya akan digelar Rabu (17/6) atau hari ini.
Berbeda dengan balapan di perairan tenang, para peserta harus menghadapi tantangan tersendiri di Pantai Cengkrong yang memiliki karakter ombak cukup kuat.
Kondisi tersebut membuat kemampuan mengendalikan perahu dan membaca arah gelombang menjadi kunci kemenangan.
Ketua panitia perlombaan, Imam Syaifudin mengatakan, seluruh peserta harus menempuh lintasan sepanjang 1,25 kilometer.
Selain kecepatan mesin, ketahanan perahu dan kekompakan pengemudi juga menjadi faktor penentu.
"Peserta tidak hanya mengandalkan kecepatan. Ombak di Pantai Cengkrong cukup menjadi tantangan sehingga mereka harus benar-benar bisa mengendalikan perahu," ujar Imam.
Dalam perlombaan tersebut, berbagai kejadian menarik pun terjadi. Salah satunya ketika mesin perahu tiba-tiba mati di tengah lintasan.
Momen tersebut justru menjadi hiburan tersendiri bagi penonton yang menyaksikan dari bibir pantai.
"Kalau ada mesin yang mati itu biasanya paling ditunggu penonton. Suasananya langsung ramai karena jadi hiburan dan membuat orang tertawa," imbuhnya.
Meski penuh tantangan, seluruh peserta tetap mengikuti perlombaan dengan antusias. Selain menjadi ajang adu kemampuan para nelayan, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi masyarakat pesisir.
Imam berharap rangkaian Labuh Laut Larung Sembonyo mampu menjadi ruang kebersamaan sekaligus memperkenalkan potensi budaya dan wisata Pantai Cengkrong kepada masyarakat luas.
"Yang utama bukan hanya lombanya, tetapi bagaimana tradisi dan kebersamaan masyarakat pesisir tetap terjaga," pungkasnya. (rka/c1/din)
Editor : Adinda Putri Sefiana