TRENGGALEK, Radar Trenggalek - Guna mengukur kompetensi dan kreativitas siswa dalam dunia teknologi, MI Plus Walisongo Trenggalek sukses menyelenggarakan ajang bergengsi bertajuk Coding Adventure 2026.
Kegiatan ini merupakan bagian dari evaluasi pembelajaran berkelanjutan yang diintegrasikan langsung ke dalam kurikulum Madrasah, baik melalui kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler.
Kepala MI Plus Walisongo Trenggalek, Izuddin Al Adib SS menjelaskan, coding kini bukan sekadar materi tambahan, melainkan mata pelajaran pilihan madrasah untuk siswa kelas 5.
Baca Juga: Payung Hukum Pilkades Belum Rampung Kini Masuk Tahap Pembahasan Agustus, Perda Ditarget Tuntas
"Sesuai dengan regulasi yang berlaku, coding untuk memperdalam bakat anak-anak. Kami juga mengembangkannya lewat kegiatan ekstrakurikuler yang diadakan seminggu sekali sejak September tahun lalu," terangnya, Rabu (17/6).
Berbeda dengan mata pelajaran intrakurikuler, ekstrakurikuler coding di MI Plus Walisongo ini menyasar rentang usia yang lebih luas, mulai dari siswa kelas 2, 3, 4, hingga kelas 5. Agar pembelajaran berjalan efektif, para peserta dibagi ke dalam beberapa tahapan kompetensi, yaitu level dasar, level 1, dan level 2.
Izuddin menekankan bahwa Coding Adventure yang digelar di setiap akhir semester ini bukanlah materi baru, melainkan sebuah wadah aplikasi praktis. Ajang ini dirancang khusus untuk menguji, menyatukan, dan memperdalam seluruh teori yang telah diserap siswa selama di kelas.
Menariknya, perkembangan kemampuan digital para siswa melampaui ekspektasi pihak madrasah.
Baca Juga: Residivis Kambuhan, Baru Keluar Penjara Sudah Jambret Lagi Terbaru Beraksi di Tiga Lokasi
Pada level dasar (kelas 2), anak-anak awalnya ditargetkan hanya untuk meniru dan mengembangkan (improve) game yang sudah ada. Namun, dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, beberapa siswa kelas 2 terbukti sudah mampu menciptakan game orisinal dari ide mereka sendiri.
Prestasi serupa juga ditunjukkan oleh siswa di level 1 dan level 2 (kelas atas). Mereka berhasil membuat proyek mandiri yang mengintegrasikan coding dengan lintas mata pelajaran, salah satunya adalah pendidikan akidah akhlak.
Siswa secara kreatif mampu menciptakan game interaktif bertema rukun islam. Dalam game tersebut, pengguna dapat menggerakkan karakter ke atas, bawah, maupun samping untuk menyelesaikan misi keagamaan. Selain itu, ada pula karya inovatif lainnya yang berfokus pada tema kebersihan lingkungan.
Baca Juga: Penumpang Beri Ongkos Lebih sebagai Kompensasi Trenggalek– Surabaya Tetap Rp 55 Ribu
Kompetisi Coding Adventure kali ini diikuti oleh sekitar 60 siswa internal MI Plus Walisongo Trenggalek yang aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler. Pada puncak acara, setiap peserta diwajibkan mempresentasikan proyek digitalnya secara mandiri di hadapan tim penguji.
Bekerja sama dengan PT Codinggo dari Kota Malang, pihak sekolah akhirnya memilih tiga karya terbaik dari masing-masing level. Para juara 1, 2, dan 3 tersebut berhak mendapatkan penghargaan langsung atas kreativitas mereka.
Melalui Coding Adventure, MI Plus Walisongo Trenggalek membuktikan komitmennya dalam mencetak generasi Islam yang unggul, adaptif, dan siap menghadapi tantangan era digital sejak dini. (gun/c1/din)