WATULIMO, Radar Trenggalek – Memasuki musim ikan pada Juni 2026, nelayan di Pantai Prigi justru belum bisa memaksimalkan tangkapan. Pasalnya, cuaca buruk dengan gelombang tinggi memaksa sebagian nelayan memilih berhenti melaut demi keselamatan.
Salah satu nelayan Pantai Prigi, Tarmuji mengatakan, saat ini sebenarnya sudah mulai musim ikan seperti banyar dan teropong. Namun, kondisi laut yang tidak bersahabat menjadi kendala utama.
“Sekarang ini sebenarnya sudah musim ikan. Tapi kendalanya cuaca, gelombangnya besar, jadi nelayan sementara berhenti dulu tidak melaut,” ujarnya, Selasa (16/5).
Baca Juga: 126 Desa di Trenggalek Catat Nol Perkawinan Anak, Capaian Didukung Sinergi Lintas Sektor
Dia menjelaskan, gelombang laut dalam beberapa hari terakhir mencapai sekitar 2,5 meter disertai angin kencang sehingga sangat berisiko bagi kapal nelayan.
“Tadi malam kami sempat mencoba melaut dengan tiga kapal. Tapi sampai di tengah tidak bisa menangkap ikan karena gelombang tinggi dan angin kencang,” jelasnya.
Dari tiga kapal yang diberangkatkan, hanya satu kapal yang berhasil membawa pulang hasil tangkapan. Itu pun jauh dari kata maksimal.
“Cuma satu kapal yang dapat, itu sekitar 2 kuintal. Dua kapal lainnya tidak dapat sama sekali. Kalau dihitung ya rugi,” ungkapnya.
Baca Juga: Perlindungan Anak Jadi Prioritas
Menurut Tarmuji, kondisi ini cukup merugikan nelayan. Pasalnya, meskipun harga ikan di tempat pelelangan tergolong baik, hasil tangkapan tidak mencukupi untuk menutup biaya operasional.
“Harga ikan sebenarnya bagus, banyar sekitar Rp 25 ribu per kilo, teropong Rp2 0 ribu. Tapi kalau tidak dapat ikan ya tetap rugi,” imbuhnya.
Selain cuaca, nelayan juga mulai mengkhawatirkan potensi kenaikan biaya operasional, terutama bahan bakar minyak (BBM), yang dapat semakin menekan pendapatan.
“Kalau BBM naik, dampaknya besar sekali ke nelayan. Harapannya, harga ikan juga ikut naik, tapi itu tidak selalu terjadi,” katanya.
Baca Juga: Antisipasi Kemarau, Monitoring Sumber Air
Untuk sementara, para nelayan memilih tidak melaut selama beberapa hari ke depan sambil menunggu kondisi cuaca membaik.
Selama masa jeda tersebut, sebagian nelayan memanfaatkan waktu untuk memperbaiki jaring yang rusak, sementara kapal tetap bersandar di pelabuhan.
Dengan kondisi cuaca yang belum menentu, nelayan berharap ada perbaikan dalam waktu dekat agar musim ikan yang sudah datang tidak terlewat begitu saja.
“Mungkin sekitar lima hari ini istirahat dulu. Nanti kalau cuaca sudah agak reda baru melaut lagi,” jelas pria 46 tahun ini. (jaz/c1/din)
Editor : Isna Dzikirianti