KOTA, Radar Trenggalek – Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapan) Kabupaten Trenggalek memperingati Hari Krida Pertanian dengan menggelar tradisi tirakatan yang telah lama dilakukan masyarakat petani.
Kegiatan tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap siklus pertanian sekaligus momentum memperkuat semangat para petani dalam mendukung ketahanan pangan.
Kepala Dispertapan Trenggalek, Imam Nurhadi menjelaskan, peringatan Hari Krida Pertanian yang diperingati setiap 21 Juni memiliki kaitan erat dengan fenomena pergerakan semu matahari.
Baca Juga: Pengawasan Program MBG Masih Lemah, Tak Cukup Dilanjutkan, PMII Minta Awasi dan Evaluasi Total
Tanggal tersebut menandai posisi matahari yang berada di sisi paling utara bumi sebelum bergeser ke selatan, yang secara tradisional menjadi penanda bahwa musim kemarau dimulai.
“Giatnya memang dari dulu kita modelnya malam tirakatan Hari Krida Pertanian. Pada 21 Juni itu posisi matahari paling utara, kemudian besok sudah bergeser. Nah, itu yang menandai 22 Juni dimulailah musim kemarau,” ujarnya.
Menurut Imam, momen tersebut sejak lama dimaknai petani sebagai tanda berakhirnya masa budidaya pada musim sebelumnya. Pada periode itu, petani biasanya membersihkan dan merawat alat-alat pertanian sebagai bagian dari tradisi menyambut musim baru.
Baca Juga: Wisata di Kawasan Hutan Mati Suri
Dia mengatakan, peringatan Hari Krida Pertanian tersebut tidak hanya menjadi kegiatan seremonial semata. Namun juga menjadi sarana memperkuat kolaborasi berbagai pihak dalam membangun sektor pertanian.
Dia menjelaskan, kemajuan dari sektor pertanian tidak dapat dicapai oleh satu instansi saja, tetapi membutuhkan dukungan dari lintas sektor.
“Mudah-mudahan dengan peringatan Hari Krida Pertanian ini bisa menambah kolaborasi antar pihak. Pertanian itu tidak bisa dibangun dari satu sisi saja, tetapi harus dibangun oleh banyak pihak,” katanya.
Baca Juga: Nelayan Prigi Terhambat Gelombang Tinggi, Tak Berani Melaut saat Musim Ikan
Imam menambahkan, Pemkab Trenggalek terus kini juga tengah berupaya untuk mendukung program swasembada pangan melalui berbagai langkah, termasuk mengatasi kendala yang dihadapi petani di lapangan.
Salah satunya dengan penyediaan pompa air dan pengembangan sumber air alternatif untuk mengatasi kekurangan air saat musim kemarau melanda.
Dengan kolaborasi yang kuat dan dukungan berbagai pihak, diharapkan produktivitas pertanian di Trenggalek dapat terus meningkat sehingga mampu mendukung target ketahanan dan swasembada pangan nasional. (tra/c1/din)