Pelemahan rupiah biasanya bukan kejadian yang mendadak, tapi lebih karena sejumlah faktor luar dan dalam yang saling terhubung. Jadi, perlu ada kajian yang agak lengkap agar penyebabnya kebaca dengan jelas sekaligus solusi yang diambilnya juga pas.
Dari sisi global, menguatnya dolar AS karena kebijakan suku bunga tinggi dari bank sentral Amerika Serikat mendorong arus dana keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Gambaran data menunjukkan bahwa dana asing cenderung turun saat imbal hasil di negara maju ikut meningkat.
Sedangkan dari sisi domestik, defisit pada neraca perdagangan di beberapa sektor tertentu serta besarnya ketergantungan pada impor ikut menekan nilai rupiah.
Ketika kebutuhan dolar AS naik untuk menanggung impor, posisi rupiah di pasar valuta asing ikut melemah.Di lapangan, efeknya kelihatan dari lonjakan harga barang impor dan juga bahan baku industri.
Tak hanya itu, di area perbatasan, selisih nilai tukar sering dimanfaatkan oleh warga negara tetangga untuk membeli barang di Indonesia dengan harga yang relatif lebih murah.
Untuk penanganannya, fokus yang paling masuk akal adalah menguatkan fondasi ekonomi, misalnya lewat peningkatan ekspor, pengendalian impor, serta menjaga stabilitas inflasi.
Kebijakan moneter yang kredibel dan terarah pun penting, karena bisa menjaga keyakinan investor pada perekonomian nasional. Dengan pengelolaan kebijakan yang pas dan dukungan dari semua pihak, perbaikan kondisi nilai tukar bisa terus didorong secara lebih berkelanjutan. (*)
Editor : Adinda Putri Sefiana