GANDUSARI, Radar Trenggalek - Aktivitas di kawasan wisata Tebing Telung Lintang, Desa Gandusari, Kecamatan Gandusari, belakangan ini terlihat lengang.
Destinasi wisata alam yang sempat ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun luar daerah tersebut kini mengalami penurunan jumlah pengunjung, terutama pada hari kerja.
Sepinya kunjungan berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat yang selama ini menggantungkan penghasilan dari sektor wisata.
Pedagang makanan dan minuman hingga warga yang menyediakan area parkir mengaku pendapatan mereka ikut menurun seiring berkurangnya wisatawan.
Pengelola Tebing Telung Lintang, Suwarno mengatakan, kondisi tersebut mulai dirasakan dalam beberapa bulan terakhir.
Menurutnya, pengunjung kini hanya ramai saat akhir pekan atau ketika ada rombongan komunitas yang datang.
Baca Juga: Salamrejo Genjot Ketahanan Pangan Bangun Saluran Irigasi Sepanjang 175 Meter
"Kalau hari biasa sangat sepi. Paling ramai hanya Sabtu dan Minggu, itupun tidak sebanyak dulu. Kami berharap ada upaya promosi yang lebih luas agar wisata ini kembali dikenal masyarakat," ujarnya.
Suwarno menjelaskan, pengelola tetap melakukan perawatan kawasan wisata secara rutin. Kebersihan area, jalur menuju lokasi, hingga fasilitas penunjang terus dijaga agar pengunjung tetap merasa nyaman saat datang.
Dia menilai, selain promosi, penyelenggaraan kegiatan seperti camping, festival, maupun olahraga alam dapat menjadi daya tarik baru untuk meningkatkan kunjungan wisatawan.
Dengan adanya agenda rutin, Tebing Telung Lintang diyakini mampu kembali menjadi salah satu destinasi unggulan di Kecamatan Gandusari.
"Kalau ada event, biasanya pengunjung meningkat. Harapan kami ada kolaborasi dengan pemerintah maupun komunitas agar wisata ini kembali hidup," katanya.
Menurut dia, potensi Tebing Telung Lintang masih sangat besar karena memiliki panorama alam yang asri serta tebing batu yang menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta alam dan olahraga panjat tebing.
Dengan pengelolaan dan promosi yang berkelanjutan, rasa optimistis jumlah wisatawan dapat kembali meningkat. (bim/din)
Editor : Adinda Okta Fitriana